Thursday, 28 February 2013

Nico Fergy:

MENJADI MANUSIA YANG PANCASILAIS

Nama               : NICO FERGIYONO
NIM                : 12413244014
Jurusan            : Pendidikan Sosiologi                                                         

A.    Latar Belakang
Di era globalisasi dan modernisasi yang ada di Indonesia ini, membawa berbagai dampak bagi kehidupan di masyarakat yang ada di Indonesia. Baik yang bersifat positif maupun yang negatif. Tentunya dampak positif berakibat baik untuk kemajuan bangsa Indonesia, tetapi dampak negatifnya membuat bangsa ini semakin rapuh dan dikhawatirkan bisa hancur oleh berbagai dampak negatif yang ada. Sebagai contoh pada kehidupan masyarakat Indonesia sekarang ini banyak sekali terjadi konfliuk, kasus-kasus penganiyayaan, pemerkosaan, kejahatan kriminal, seks bebas, narkoba dan lain sebagainya.
Hal ini dikarenakan kurang kuatnya moral masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu, penanaman nilai-nilai luhur yang dituangkan dalam dasar negara sangat diperlukan baik diberikan dalam bentuk sosialisasi ataupun dalam pembelajaran di sekolah. Karena semakin majunya zaman, semakin pudarnya rasa untuk memiliki dasar negara yang telah dibuat oleh para pendahulu untuk kepentingan kita semua. Bayangkan saja pada sekarang ini banyak orang yang tidak mengetahui tentang idiologi bangsa kita yaitu pancasila, banyak orang tahu tentang pancasila dan bisa menyebutkan dari sila pertama sampai dengan kelima, tetapi yterkadang ada masyarakat yang tidak hafal dengan sila-sila pada pancasila.
Pancasila merupakan idiologi bangsa kita, nilai-nilai yang terkandung di dalam pancasila sangatlah bagus, banyak negara-negara di dunia memuji akan dasar negara kita, tetapi kenapa bangsa kita sendiri tidak  bisa menerapkan nilai-nilai yang ada pada pancasila dalam kehidupan kita sehari-hari.
Pancasila juga memiliki kedudukan dan fungsi yang  penting bagi bangsa Indonesia, antara lain sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia yang mengatur segala tingkah laku dan tindakan warga negara Indonesia, juga sebagai pemersatu bangsa Indonesia. Pancasila yang digali dan dirumuskan para pendiri bangsa adalah sebuah rasionalitas kita sebagai bangsa yang majemuk, multi agama, multi bahasa, multi budaya, dan multi ras yang tergambar dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika agar menjadi bangsa yang bersatu, adil dan makmur.
Oleh karena itu kita perlu membahas tentang bagaimana menjadi manusia yang pancasilais, yang mampu menerapkan nilai-nilai yang ada pada pancasila dalam kehidupan kita sehari-hari, agar moral bangsa Indonesia semakin tertata secara baik, dan tujuan-tujuan bangsa Indonesia dapat terwujud, serta menciptakan kedamaian dan kesejahteraan dalam kehidupan bermasyarakat.
B.     Menjadi Manusia yang Pancasilais
Seseorang yang pancasilais adalah orang yang memiliki pandangan hidup yang sesuai dengan Pancasila. Nilai-nilai yang terkandung di dalam sila-sila Pancasila tersebut berasal dari budaya masyarakat bangsa Indonesia sendiri. Oleh karena itu, Pancasila sebagai inti dari nilai-nilai budaya Indonesia maka Pancasila dapat disebut sebagai cita-cita moral bangsa Indonesia. Cita-cita moral inilah yang kemudian memberikan pedoman, pegangan atau kekuatan rohaniah kepada bangsa Indonesia di dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Orang-orang yang memiliki pandangan hidup yang pancasilais dan bukan hanya menjadi pandangan hidup saja melainkan nilai-nilai yang terkandung di dalam pancasila dapat diterapkan dalam kehidupannya sehari-hari, sehingga menimbulkan kedamaian dan ketenagan dalam kehidupannya. Apabila setiap warga negara di Indonesia menjadikan pancasila sebagai pedoman dan diterapkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari, tentu bangsa Indonesia ini akan dapat mencapai tujuan-tujuan mulianya, bahkan akan tercapai kehidupan-kehidupan yang damai, aman, tentram sejahtera dll.

Contoh-contoh perilaku manusia yang pancasilais dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan sila-sila dalam pancasila.
1.      Ketuhanan Yang Maha Esa
Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketaqwaannya terhadap Tuhan Yang Maha  Esa, setiap warga masyarakat yang ada di Indonesia mengakui Tuhan sebagai kepercayaan mereka, tanpa membedakan agama yang dianutnya. Karena di Indonesia ada 6 agama yang diakui, yaitu, Kristen, Islam, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu.
Contoh sifat-sifat yang sesuai dengan sila pertama adalah:

a.       Memiliki agama (mengakui satu Tuhan sebagai tuhannya.)
b.      Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Misalnya: ketika ada teman yang beragama islam sedang sholat maka saya sebagai orang Kristen menghargainya dengan tidak mengganggunya, atau ketika teman kita ada yang merayakan nyepi maka kita menghormatinya dengan mengucapkan selamat hari raya nyepi baginya.
c.       Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaanterhadap Tuhan Yang Maha Esa.
d.      Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.
e.       Memberikan toleransi penuh terhadap semua agama. artinya menghargai setiap perbedaan yang ada, tidak terlalu fanatik terhadap agama lain.

2.       Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
Di negara kita harusnya setiap orang harus menjunjung tinggi keadilan, tetapi sekarang ini sepertiinya keadilan sangat sulit untuk ditegakkan. Harusnya setiap warga negara di Indonesia harus memiliki sifat-sifat sebagai berikut, agar dapat terciptanya suatu keadilan.
a.       Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
b.      Tidak takut membela kebenaran meskipun harus berhadapan dengan penguasa, atau orang yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi.
c.       Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia,tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin,kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.
d.      Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
e.       Mengembangkan sikap saling tenggang rasa.
f.       Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
g.      Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
h.      Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan

3.      Persatuan Indonesia
Persatuan sangatlah dibutuhkan di Indonesia, karena dengan adanya persatuan negara kita akan menjadi sebuah negara  yang maju, yang aman damai dan tentram dengan segala perbedaan yang dipersatukan yang menjadi multikulturalisme, yang dapat memperkaya budaya-budaya yang ada di Indonesia. Tetapi akhir-akhir ini sering terjadi konflik baik karena ras, agama, suku atau yang lain sebagainya, hal itu harusnya dapat dihindari jika masyarakat menerapkan nilai di dalam sila ketiga ini dalam kehidupannya sehari-hari. Antara lain:
a.      Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dangolongan.
b.      Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
c.       Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabiladiperlukan.
d.      Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
e.      Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
f.        Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.
g.      Mampu bertoleransi demi persatuan dan kesatuan negara Indonesia.

4.      Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan dan Perwakilan.
Setiap pengambilan keputusan dan kebijakan di Indonesia hendaknya berdasarkan musyawarah ataupun mufakat demi memndapatkan suatu hasil yang terbaik. Contohnya:
a.       Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama untuk berpendapat.
b.      Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggung jawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
c.       Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
d.      Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
e.       Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.
f.       Dengan i’tikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
g.      Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
h.      Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
i.        Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.

5.      Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Menciptakan suatu keadilan bagi seluruh masyarakat Indonesia merupakan tujuan dari bangsa Indonesia, oleh karena itu keadilan harus ditanamkan dalam diri setiap individu dalam masyarakat. contohnya:
a.                      Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
b.                      Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
c.                      Melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan keadilan sosial dalam seluruh lapisan masyarakat.
d.                     Menghormati hak dan orang lain.
e.                      Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.
f.                       Tidak menggunakan hak milik yang bertentangan atau merugikan kepentingan umum.
g.                      Menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.






TEORI-TEORI PERUBAHAN SOSIAL
 
BAB I
PENDAHULUAN
      A. Latar Belakang Masalah
            Pada dasarnya setiap masyarakat yang ada di muka bumi ini dalam hidupnya dapat dipastikan akan mengalami apa yang dinamakan dengan perubahan-perubahan. Adanya perubahan-perubahan tersebut akan dapat diketahui bila kita melakukan suatu perbanding­an dengan menelaah suatu masyarakat pada masa tertentu yang kemudian kita bandingkan dengan keadaan masyarakat pada waktu yang lampau. Perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat,pada dasarnya merupakan suatu proses yang terus menerus, ini berarti bahwa setiap masyarakat pada kenyataannya akan mengalami perubahan-peru­bahan. Indonesia sendiri merupakan Negara yang  terdiri dari pulau-pulau yang memiliki keanekaragaman suku bangsa. Konflik di Indonesia merupakan hal sering terjadi dikarenakan keadaan masyarakat Indonesia yang multicultural dan prulal sehingga begitu sensitive terhadap gesekan konflik sosial baik individual ataupun kelompok. Hal itu menyebabkan terjadinya pergeseran atau perubahan sosial budaya di masyarakat. Perubahan sosial yang terjadi bisa ke arah perubahan yang lebih baik (progres) maupun ke arah yang negativ atau buruk (regres). Faktor-faktor yang penyebab terjadinya perubahan sosial budaya ada dua macam, baik dari dalam (intern) maupun dari luar (ekstern).
            Perubahan yang terjadi antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain tidak selalu sama. Hal ini dikarenakan adanya suatu masyarakat yang meng­alami perubahan yang lebih cepat (revolusi) bila dibandingkan dengan masyarakat lainnya. Di samping itu ada juga perubahan-perubahan yang prosesnya lambat (evolusi). Perubahan sosial dalam masyarakat tersebut memiliki pengaruh untuk masyarakat itu sendiri, terdapat adanya perubahan-perubahan yang memiliki pengaruh luas maupun terbatas.  
            Tidak bisa dipungkiri perubahan sosial budaya selalu akan terjadi dalam masyarakat. Oleh karena itu, kelompok kami membahas materi tentang perubahan sosial budaya dan teori-teori perubahan sosial budaya oleh beberapa ahli, agar makalah ini dapat bermanfaat baik bagi kami maupun bagi mahasiswa lain dengan memahami definisi perubahan sosial secara umum maupun desinisi menurut beberapa ahli, faktor penyebab terjadinya perubahan sosaial budaya, dan proses perubahan sosial budaya.

A.    Rumusan Masalah
1.      Apa itu perubahan sosial ?
2.      Bagaimana teori-teori perubahan sosial menurut para ahli ?
B.     Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui apa itu perubahan sosial
2.      Mengetahui teori-teori perubahan sosial menurut beberapa ahli













BAB II
PEMBAHASAN
1.      Pengertian perubahan sosial
            Secara umum perubahan sosial dapat diartikan sebagai suatu proses pergeseran atau berubahnya struktur atau tatanan di dalam masyarakat, meliputi pola pikir yang lebih inovatif, sikap, serta kehidupan sosialnya untuk mendapatkan penghidupan yang lebih bermartabat. Setiap masyarakat selama hidupnya pasti mengalami perubahan. Setiap individu dalam masyarakat pasti menginginkan adanya sebuah perubahan dalam hidupnya, biasanya masing-masing individu tersebut menghendaki adanya perubahan ke arah yang lebih baik (progres). Tapi di satu sisi, perubahan dalam seorang individu bisa juga merupakan perubahan yang menuju ke arah yang kurang baik (regres), atau bisa dikatakan bahwa perubahan yang dialaminya tersebut merupakan perubahan yang merujuk pada sebuah kemunduran. Oleh karena itu perubahan bagi masyarakat yang bersangkutan maupun bagi orang luar yang menelaahnya, dapat berupa perubahan-perubahan yang tidak menarik dalam arti kurang mencolok. Perubahan sosial dalam masyarakat dapat berlangsung secara cepat (revolusi) maupun secara lambat (evolusi). Perubahan yang berlangsung secara cepat maupun lambat ini tentunya akan berpengaruh dalam masyarakat, pengaruh yang ditimbulkan dapat berupa perubahan yang berpengaruh kecil dan perubahan yang memilki pengaruh yang besar. Perubahan-perubahan berpengaruh kecil merupakan perubahan- perubahan yang terjadi pada struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atau berarti bagi masyarakat. Contoh, perubahan mode pakaian dan mode rambut. Perubahan-perubahan tersebut tidak membawa pengaruh yang besar dalam masyarakat karena tidak mengakibatkan perubahan-perubahan pada lembaga kemasyarakatan. Suatu perubahan dikatakan berpengaruh besar jika perubahan tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan pada struktur kemasyarakatan, hubungan kerja, sistem mata pencaharian, maupun stratifikasi masyarakat. Seperti pengaruh yang tampak pada perubahan masyarakat agraris menjadi industrialisasi. Pada perubahan ini memberi pengaruh secara besar-besaran terhadap jumlah kepadatan penduduk di wilayah industri dan mengakibatkan adanya perubahan mata pencaharian.  Perubahan-perubahan dalam masyarakat dapat terjadi karena perubahan tersebut memang benar-benar diinginkan oleh masyarakat tersebut atau merupakan perubahan yang dikehendaki (planned-change). Namun tidak jarang perubahan-perubahn yang terjadi dalam masyarakat terjadi begitu saja dalam artian bahwa perubahan yang terjadi merupakan perubahan yang tidak direncanakan oleh masyarakat (unplanned-change). Perubahan sosial ini bisa berkaitan dengan:
a.      Nilai-nilai sosial
b.      Pola-pola perilakau
c.       Organisasi
d.      Lembaga kemasyarakatan
e.      Lapisan dalam masyarakat
f.        Kekuasaan, wewenang, dll
            Perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat pada umumnya menyangkut hal yang kompleks. Perubahan sosial dapat terjadi pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap-sikap, dan pola-pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.
2.      Teori-teori Perubahan Sosial Menurut Beberapa Ahli
            Menurut beberapa ahli filsafat, sejarah, ekonomi, dan sosiologi berpendapat bahwa kecenderungan terjadinya perubahan-perubahan sosial merupakan sebuah gejala yang wajar dan akan timbul dari pergaulan hidup manusia. Namun ada ahli lain yang berpendapat bahwa perubahan sosial terjadi karena adanya perubahan dalam unsur-unsur yang memepertahankan keseimbangan masyarakat, seperti misalnya perubahan dalam unsur-unsur geografis, biologis, ekonomis, atau budaya. Berikut ini merupakan teori-teori yang dikemukakan oleh beberapa ahli tentang perubahan sosial :
a.       Menurut Pitirim A. Sorokin
            Patirim A. Sorokin berpendapat bahwa segenap usaha untuk mengemukakan adanya suatu kecenderungan yang tertentu dan tetap dalam perubahan-perubahan sosial tidak akan berhasil baik. Dia meragukan kebenaran akan adanya lingakaran-lingkaran perubahan sosial. Akan tetapi perubahan-perubahan tetap ada, dan yang paling penting adalah lingkaran terjadinya gejala-gejala sosial harus dipelajari, karena dengan jalan tersebut barulah akan diperoleh suatu generalisasi. 
            Patirim A. Sorokin merupakan penganut Teori Siklus. Ia berpandangan bahwa semua peradaban besar di dunia berada dalam siklus 3 sistem kebudayaan yang berputar tanpa akhir, yaitu:
·         Kebudayaan ideasional
            Sistem kebudayaan ini didasari oleh nilai dan kepercayaan terhadap unsur adikodrati (supranatural).
·         Kebudayaan idealistis
            Kebudayaan idealistis merupakan perpaduan antara unsur kepercayaan terhadap unsur adikodrati dan rasionalitas berdasar fakta dalam membentuk masyarakat ideal.
·         Kebudayaan sensasi
            Dalam  sistem kebudayaan sensasi, sensasi yang ada dalam masyarakat dijadikan sebagai tolak ukur dari kenyataan dan tujuan hidup.
            Dalam Social and Cultural Dynamics”, Sorokin menilai peradaban modern adalah peradaban yang rapuh dan tidak lama lagi akan runtuh dan selanjutnya berubah menjadi kebudayaan ideasional yang baru. Dalam suatu perubahan yang terpenting adalah tentang proses sosial yang saling berkaitan. Sorokin juga memberikan pengertian tentang proses sosial yaitu sebuah perubahan subyek tertentu dalam perjalanan waktu, entah itu perubahan tempatnya dalam ruang atau modifikasi aspek kuantitatif atau kualitatifnya.
b.      Menurut Talcott Parsons
            Talcott Parsons melahirkan teori fungsional tentang perubahan. Parsons menganalogikan perubahan sosial pada masyarakat seperti halnya pertumbuhan pada makhluk hidup. Komponen utama pemikiran Parsons adalah adanya proses diferensiasi. Parsons berasumsi bahwa setiap masyarakat tersusun dari sekumpulan subsistem yang berbeda berdasarkan strukturnya maupun berdasarkan makna fungsionalnya bagi masyarakat yang lebih luas. Ketika masyarakat berubah, umumnya masyarakat tersebut akan tumbuh dengan kemampuan yang lebih baik untuk menanggulangi permasalahan hidupnya. Dapat dikatakan Parsons termasuk dalam golongan yang memandang optimis sebuah proses perubahan sosial.   Bahasan tentang struktural fungsional Parsons ini akan diawali dengan empat fungsi yang penting untuk semua sistem tindakan. Suatu fungsi adalah kumpulan kegiatan yang ditujukan pada pemenuhan kebutuhan tertentu atau kebutuhan sistem. Parsons menyampaikan empat fungsi yang harus dimiliki oleh sebuah sistem agar mampu bertahan, yaitu :
§  Adaptasi, yaitu sebuah sistem harus mampu menanggulangi situasi eksternal yang gawat. Sehingga sistem harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.
§  Pencapaian, sebuah sistem harus mendefinisikan dan mencapai tujuan utamanya.
§  Integrasi, sebuah sistem harus mengatur hubungan antar bagian yang menjadi komponennya. Sistem juga harus dapat mengelola hubungan antara ketiga fungsi penting lainnya.
§  Pemeliharaan pola, sebuah sistem harus melengkapi, memelihara dan memperbaiki motivasi individual maupun pola-pola kultural yang menciptakan dan menopang motivasi.
c.       Menurut William F.Ogburn
             William F. Ogburn mengemukakan pendapat bahwa ada kondisi-kondisi sosial primer yang menyebabkan terjadinya perubahan. Dia juga menyatakan bahwa ruang lingkup perubahan sosial meliputi unsur-unsur kebudayaan baik yang material maupun yang immaterial, yang ditekankan adalah pengaruh besar unsur-unsur kebudayaan material terhadap unsur-unsur immaterial. Dalam hal ini dia menekankan pada kondisi teknologis. Ogburn menyebutkan perubahan teknologi biasanya lebih cepat daripada perubahan budaya nonmaterial seperti kepercayaan, norma, dan nilai-nilai yang mengatur masyarakat sehari-hari. Oleh karena itu, dia berpendapat bahwa perubahan teknologi seringkali menghasilkan kejutan budaya yang pada gilirannya akan memunculkan pola-pola perilaku yang baru meskipun terjadi konflik dengan nilai-nilai tradisional.
            Konsep yang berkembang dari teori ini adalah cultural lag (kesenjangan budaya). Konsep ini mendukung Teori Fungsionalis untuk menjelaskan bahwa perubahan sosial tidak lepas dari hubungan antara unsur-unsur kebudayaan dalam masyarakat. Menurut teori ini, beberapa unsur kebudayaan bisa saja berubah dengan sangat cepat sementara unsur yang lainnya tidak dapat mengikuti kecepatan perubahan unsur tersebut. Maka, yang terjadi adalah ketertinggalan unsur yang berubah secara perlahan tersebut. Ketertinggalan ini menyebabkan kesenjangan sosial atau cultural lag .
            Para penganut Teori Fungsionalis lebih menerima perubahan sosial sebagai sesuatu yang konstan dan tidak memerlukan penjelasan. Perubahan dianggap sebagai suatu hal yang mengacaukan keseimbangan masyarakat. Proses pengacauan ini berhenti pada saat perubahan itu telah diintegrasikan dalam kebudayaan. Apabila perubahan itu ternyata bermanfaat, maka perubahan itu bersifat fungsional dan akhirnya diterima oleh masyarakat, tetapi apabila terbukti disfungsional atau tidak bermanfaat, perubahan akan ditolak. Secara lebih ringkas, pandangan Teori Fungsionalis adalah sebagai berikut.
·         Setiap masyarakat relatif bersifat stabil.
·          Setiap komponen masyarakat biasanya menunjang kestabilan masyarakat.
·         Setiap masyarakat biasanya relatif terintegrasi.
·         Kestabilan sosial sangat tergantung pada kesepakatan bersama (konsensus) di kalangan anggota kelompok masyarakat.

d.      Menurut Max Weber
            Pada dasarnya teori yang dikemukakan oleh Max Weber melihat perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat adalah akibat dari pergeseran nilai yang dijadikan orientasi kehidupan masyarakat. Dalam hal ini dicontohkan masyarakat Eropa yang sekian lama terbelenggu oleh nilai Katolikisme Ortodoks, kemudian berkembang pesat kehidupan sosial ekonominya atas dorongan dari nilai Protestanisme yang dirasakan lebih rasional dan lebih sesuai dengan tuntutan kehidupan modern.
            Max Weber lebih cenderung menganggap bahwa interaksi sosial sangat terkait dengan perilaku manusia. Oleh karena itu penelitian mengarah kepada prilaku manusia dan sebab-sebab terjadinya interaksi sosial. Dalam pandangannya, Max weber lebih berorientasi pada system gagasan, system pengetahuan, system kepercayaan yang justru menjadi sebab perubahan sosial.  Selain Itu Max Weber lebih cenderung kepada prilaku sosial sebagai usaha melakukan aksi-aksi sosial. Teori yang terkenal adalah methode of understanding dan ideal typus yaitu suatu konstruksi dalam fikiran peneliti yang dapat digunakan sebagai alat untuk mengalisis gejala-gejala dalam masyarakat Dari pandaangan tersebut dapat dipahami bahwa perubahan sosial mutlak terjadi sejalan dengan perubahan pada masyarakat itu sendiri.
            Max Weber juga menegemukakan tentang Perspektif Idealis. Berbeda dengan teori yang mengemukakan tentang materialis yang memandang bahwa faktor budaya material yang menyebabkan perubahan sosial, perspektif idealis melihat bahwa perubahan sosial disebabkan oleh faktor nonmaterial. Faktor non material ini antara lain ide, nilai dan ideologi. Ide merujuk pada pengetahuan dan kepercayaan, nilai merupakan anggapan terhadap sesuatu yang pantas atau tidak pantas, sedangkan ideologi berarti serangkaian kepercayaan dan nilai yang digunakan untuk membenarkan atau melegitimasi bentuk tindakan masyarakat. Weber memiliki pendapat  bahwa perkembangan industrial kapitalis tidak dapat dipahami hanya dengan membahas factor penyebab yang bersifat material dan teknik. Pemikiran Weber yang dapat berpengaruh pada teori perubahan sosial adalah dari bentuk rasionalisme yang dimiliki. Dalam kehidupan masyarakat barat model rasionalisme akan mewarnai semua aspek kehidupan. Menurut Weber, rasionalitas memiliki empat macam model, yaitu :
·         Rasionalitas tradisional.
·         Rasionalitas yang berorientasi nilai.
·         Rasionalitas afektif.
·         Rasionalitas instrumental.
            Weber melihat bahwa pada wilayah Eropa yang mempunyai perkembangan industrial kapital pesat adalah wilayah yang mempunyai penganut protestan. Bagi Weber, ini bukan suatu kebetulan semata, nilai-nilai protestan menghasilkan etik budaya yang menunjang perkembangan industrial kapitalis. Protestan Calvinis merupakan dasar pemikiran etika protestan yang menganjurkan manusia untuk bekerja keras, hidup hemat dan menabung. Pada kondisi material yang hampir sama, industrial capital ternyata tidak berkembang di wilayah dengan mayoritas Katholik, yang tentu saja tidak mempunyai etika protestan.



BAB III
KESIMPULAN
           
            Secara umum perubahan sosial dapat diartikan sebagai suatu proses pergeseran atau berubahnya struktur atau tatanan di dalam masyarakat, meliputi pola pikir yang lebih inovatif, sikap, serta kehidupan sosialnya untuk mendapatkan penghidupan yang lebih bermartabat.
            Berikut ini merupakan teori-teori yang dikemukakan oleh beberapa ahli tentang perubahan social, Patirim A. Sorokin berpendapat perubahan-perubahan tetap ada, dan yang paling penting adalah lingkaran terjadinya gejala-gejala sosial harus dipelajari, karena dengan jalan tersebut barulah akan diperoleh suatu generalisasi. Talcott Parsons melahirkan teori fungsional tentang perubahan. Parsons menganalogikan perubahan sosial pada masyarakat seperti halnya pertumbuhan pada makhluk hidup. William F. Ogburn mengemukakan pendapat bahwa ada kondisi-kondisi sosial primer yang menyebabkan terjadinya perubahan, Pada dasarnya teori yang dikemukakan oleh Max Weber melihat perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat adalah akibat dari pergeseran nilai yang dijadikan orientasi kehidupan masyarakat.