Thursday, 16 May 2013


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG MASALAH

Pada dasarnya setiap masyarakat yang ada di muka bumi ini dalam hidupnya dapat dipastikan akan mengalami apa yang dinamakan dengan perubahan-perubahan. Adanya perubahan-perubahan tersebut akan dapat diketahui bila kita melakukan suatu perbanding­an dengan menelaah suatu masyarakat pada masa tertentu yang kemudian kita bandingkan dengan keadaan masyarakat pada waktu yang lampau. Perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat,pada dasarnya merupakan suatu proses yang terus menerus, ini berarti bahwa setiap masyarakat pada kenyataannya akan mengalami perubahan-peru­bahan. Indonesia sendiri merupakan Negara yang  terdiri dari pulau-pulau yang memiliki keanekaragaman suku bangsa. Konflik di Indonesia merupakan hal sering terjadi dikarenakan keadaan masyarakat Indonesia yang multicultural dan prulal sehingga begitu sensitive terhadap gesekan konflik sosial baik individual ataupun kelompok. Hal itu menyebabkan terjadinya pergeseran atau perubahan sosial budaya di masyarakat. Perubahan sosial yang terjadi bisa ke arah perubahan yang lebih baik (progres) maupun ke arah yang negativ atau buruk (regres). Faktor-faktor yang penyebab terjadinya perubahan sosial budaya ada dua macam, baik dari dalam (intern) maupun dari luar (ekstern).

Perubahan yang terjadi antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain tidak selalu sama. Hal ini dikarenakan adanya suatu masyarakat yang meng­alami perubahan yang lebih cepat (revolusi) bila dibandingkan dengan masyarakat lainnya. Di samping itu ada juga perubahan-perubahan yang prosesnya lambat (evolusi). Perubahan sosial dalam masyarakat tersebut memiliki pengaruh untuk masyarakat itu sendiri, terdapat adanya perubahan-perubahan yang memiliki pengaruh luas maupun terbatas.  
Oleh karena itu kita akan membahas perubahan sosial yang ada di masyarakat sedulur sikep (samin) di Pati, Jawa Tengah. Agar kita dapat mengetahui perubahan-perubahan sosial apa sajakah yang ada di sana, dan bagaimana kondisi masyarakat yang ada di sana.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana kondisi masyarakat yang ada di sedulur sikep sukowilo, Pati, Jawa Tengah?
2.      Perubahan-perubahan sosial apa sajakah yang ada di masyarakat tersebut?

C.    TUJUAN
1.      Kita dapat mengetahui bagaimana kondisi masyarakat yang ada di sedulur sikep sukowilo tersebut.
2.      Kita dapat mengetahui perubahan-perubahan sosial apa saja yang terdapat di masyarakat sedulur sikep sukowilo.

D.    MANFAAT PENELITIAN

Hasil penelitian ini diharapkkan dapat memberi manfaat sebagai berikut:

1.      Manfaat Teoritis
a.       Hasil penelitian ini diharapkkan dapat memberi manfaat bagi program studi pendidikan sosiologi untuk memberikan referensi dalam pengkajian masalah-masalah sosial budaya.
b.      Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu sosiologi terutama dalam bidang kebudayaan.
c.       Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk penelitian-penelitian yang relevan lainnya.

2.      Manfaat Praktis
a.       Bagi Mahasiswa
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan acuan informasi dan menambah pengetahuan tentang perubahan-perubahan sosial yang ada di masyarakat sedulur sikep sukowilo, Pati, Jawa Tengah.

b.      Bagi Peneliti
1.      Penelitian ini dilaksanakan guna memenuhi tugas mata kuliah perubahan sosial budaya.
2.      Menambah pengetahuan dan pengalaman peneliti dalam terjun ke masyarakat sehingga penelitian ini dapat dijadikan bekal untuk melakukan penelitian-penelitian selanjutnya maupun membantu kami dalam proses Kuliah Kerja Lapangan nantinya.

c.       Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan bagi masyarakat khusunya mahasiswa FIS UNY mengenai perubahan-perubahan sosial yang ada di masyarakat sedulur sikep sukowilo, Pati, Jawa Tengah.






E.     KAJIAN PUSTAKA

1.      Pengertian perubahan sosial
Secara umum perubahan sosial dapat diartikan sebagai suatu proses pergeseran atau berubahnya struktur atau tatanan di dalam masyarakat, meliputi pola pikir yang lebih inovatif, sikap, serta kehidupan sosialnya untuk mendapatkan penghidupan yang lebih bermartabat. Perubahan sosial ini bisa berkaitan dengan:
a.      Nilai-nilai sosial
b.      Pola-pola perilakau
c.       Organisasi
d.      Lembaga kemasyarakatan
e.      Lapisan dalam masyarakat
f.        Kekuasaan, wewenang, dll
            Perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat pada umumnya menyangkut hal yang kompleks. Perubahan sosial dapat terjadi pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap-sikap, dan pola-pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.
Berikut ini merupakan teori-teori yang dikemukakan oleh beberapa ahli tentang perubahan sosial
a.       Menurut Pitirim A. Sorokin
            Patirim A. Sorokin berpendapat bahwa segenap usaha untuk mengemukakan adanya suatu kecenderungan yang tertentu dan tetap dalam perubahan-perubahan sosial tidak akan berhasil baik. Dia meragukan kebenaran akan adanya lingakaran-lingkaran perubahan sosial. Akan tetapi perubahan-perubahan tetap ada, dan yang paling penting adalah lingkaran terjadinya gejala-gejala sosial harus dipelajari, karena dengan jalan tersebut barulah akan diperoleh suatu generalisasi. 
            Patirim A. Sorokin merupakan penganut Teori Siklus. Ia berpandangan bahwa semua peradaban besar di dunia berada dalam siklus 3 sistem kebudayaan yang berputar tanpa akhir, yaitu:
·         Kebudayaan ideasional
            Sistem kebudayaan ini didasari oleh nilai dan kepercayaan terhadap unsur adikodrati (supranatural).
·         Kebudayaan idealistis
            Kebudayaan idealistis merupakan perpaduan antara unsur kepercayaan terhadap unsur adikodrati dan rasionalitas berdasar fakta dalam membentuk masyarakat ideal.
·         Kebudayaan sensasi
            Dalam  sistem kebudayaan sensasi, sensasi yang ada dalam masyarakat dijadikan sebagai tolak ukur dari kenyataan dan tujuan hidup.
Dalam Social and Cultural Dynamics”, Sorokin menilai peradaban modern adalah peradaban yang rapuh dan tidak lama lagi akan runtuh dan selanjutnya berubah menjadi kebudayaan ideasional yang baru. Dalam suatu perubahan yang terpenting adalah tentang proses sosial yang saling berkaitan. Sorokin juga memberikan pengertian tentang proses sosial yaitu sebuah perubahan subyek tertentu dalam perjalanan waktu, entah itu perubahan tempatnya dalam ruang atau modifikasi aspek kuantitatif atau kualitatifnya.
b.      Menurut Talcott Parsons
            Talcott Parsons melahirkan teori fungsional tentang perubahan. Parsons menganalogikan perubahan sosial pada masyarakat seperti halnya pertumbuhan pada makhluk hidup. Komponen utama pemikiran Parsons adalah adanya proses diferensiasi. Parsons berasumsi bahwa setiap masyarakat tersusun dari sekumpulan subsistem yang berbeda berdasarkan strukturnya maupun berdasarkan makna fungsionalnya bagi masyarakat yang lebih luas. Ketika masyarakat berubah, umumnya masyarakat tersebut akan tumbuh dengan kemampuan yang lebih baik untuk menanggulangi permasalahan hidupnya. Dapat dikatakan Parsons termasuk dalam golongan yang memandang optimis sebuah proses perubahan sosial.   Bahasan tentang struktural fungsional Parsons ini akan diawali dengan empat fungsi yang penting untuk semua sistem tindakan. Suatu fungsi adalah kumpulan kegiatan yang ditujukan pada pemenuhan kebutuhan tertentu atau kebutuhan sistem. Parsons menyampaikan empat fungsi yang harus dimiliki oleh sebuah sistem agar mampu bertahan, yaitu :
§  Adaptasi, yaitu sebuah sistem harus mampu menanggulangi situasi eksternal yang gawat. Sehingga sistem harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.
§  Pencapaian, sebuah sistem harus mendefinisikan dan mencapai tujuan utamanya.
§  Integrasi, sebuah sistem harus mengatur hubungan antar bagian yang menjadi komponennya. Sistem juga harus dapat mengelola hubungan antara ketiga fungsi penting lainnya.
§  Pemeliharaan pola, sebuah sistem harus melengkapi, memelihara dan memperbaiki motivasi individual maupun pola-pola kultural yang menciptakan dan menopang motivasi.
c.       Menurut William F.Ogburn
             William F. Ogburn mengemukakan pendapat bahwa ada kondisi-kondisi sosial primer yang menyebabkan terjadinya perubahan. Dia juga menyatakan bahwa ruang lingkup perubahan sosial meliputi unsur-unsur kebudayaan baik yang material maupun yang immaterial, yang ditekankan adalah pengaruh besar unsur-unsur kebudayaan material terhadap unsur-unsur immaterial. Dalam hal ini dia menekankan pada kondisi teknologis. Ogburn menyebutkan perubahan teknologi biasanya lebih cepat daripada perubahan budaya nonmaterial seperti kepercayaan, norma, dan nilai-nilai yang mengatur masyarakat sehari-hari. Oleh karena itu, dia berpendapat bahwa perubahan teknologi seringkali menghasilkan kejutan budaya yang pada gilirannya akan memunculkan pola-pola perilaku yang baru meskipun terjadi konflik dengan nilai-nilai tradisional.
            Konsep yang berkembang dari teori ini adalah cultural lag (kesenjangan budaya). Konsep ini mendukung Teori Fungsionalis untuk menjelaskan bahwa perubahan sosial tidak lepas dari hubungan antara unsur-unsur kebudayaan dalam masyarakat. Menurut teori ini, beberapa unsur kebudayaan bisa saja berubah dengan sangat cepat sementara unsur yang lainnya tidak dapat mengikuti kecepatan perubahan unsur tersebut. Maka, yang terjadi adalah ketertinggalan unsur yang berubah secara perlahan tersebut. Ketertinggalan ini menyebabkan kesenjangan sosial atau cultural lag .
            Para penganut Teori Fungsionalis lebih menerima perubahan sosial sebagai sesuatu yang konstan dan tidak memerlukan penjelasan. Perubahan dianggap sebagai suatu hal yang mengacaukan keseimbangan masyarakat. Proses pengacauan ini berhenti pada saat perubahan itu telah diintegrasikan dalam kebudayaan. Apabila perubahan itu ternyata bermanfaat, maka perubahan itu bersifat fungsional dan akhirnya diterima oleh masyarakat, tetapi apabila terbukti disfungsional atau tidak bermanfaat, perubahan akan ditolak. Secara lebih ringkas, pandangan Teori Fungsionalis adalah sebagai berikut.
·         Setiap masyarakat relatif bersifat stabil.
·          Setiap komponen masyarakat biasanya menunjang kestabilan masyarakat.
·         Setiap masyarakat biasanya relatif terintegrasi.
·         Kestabilan sosial sangat tergantung pada kesepakatan bersama (konsensus) di kalangan anggota kelompok masyarakat.

d.      Menurut Max Weber
            Pada dasarnya teori yang dikemukakan oleh Max Weber melihat perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat adalah akibat dari pergeseran nilai yang dijadikan orientasi kehidupan masyarakat. Dalam hal ini dicontohkan masyarakat Eropa yang sekian lama terbelenggu oleh nilai Katolikisme Ortodoks, kemudian berkembang pesat kehidupan sosial ekonominya atas dorongan dari nilai Protestanisme yang dirasakan lebih rasional dan lebih sesuai dengan tuntutan kehidupan modern.
            Max Weber lebih cenderung menganggap bahwa interaksi sosial sangat terkait dengan perilaku manusia. Oleh karena itu penelitian mengarah kepada prilaku manusia dan sebab-sebab terjadinya interaksi sosial. Dalam pandangannya, Max weber lebih berorientasi pada system gagasan, system pengetahuan, system kepercayaan yang justru menjadi sebab perubahan sosial.  Selain Itu Max Weber lebih cenderung kepada prilaku sosial sebagai usaha melakukan aksi-aksi sosial. Teori yang terkenal adalah methode of understanding dan ideal typus yaitu suatu konstruksi dalam fikiran peneliti yang dapat digunakan sebagai alat untuk mengalisis gejala-gejala dalam masyarakat Dari pandaangan tersebut dapat dipahami bahwa perubahan sosial mutlak terjadi sejalan dengan perubahan pada masyarakat itu sendiri.
            Max Weber juga menegemukakan tentang Perspektif Idealis. Berbeda dengan teori yang mengemukakan tentang materialis yang memandang bahwa faktor budaya material yang menyebabkan perubahan sosial, perspektif idealis melihat bahwa perubahan sosial disebabkan oleh faktor nonmaterial. Faktor non material ini antara lain ide, nilai dan ideologi. Ide merujuk pada pengetahuan dan kepercayaan, nilai merupakan anggapan terhadap sesuatu yang pantas atau tidak pantas, sedangkan ideologi berarti serangkaian kepercayaan dan nilai yang digunakan untuk membenarkan atau melegitimasi bentuk tindakan masyarakat. Weber memiliki pendapat  bahwa perkembangan industrial kapitalis tidak dapat dipahami hanya dengan membahas factor penyebab yang bersifat material dan teknik. Pemikiran Weber yang dapat berpengaruh pada teori perubahan sosial adalah dari bentuk rasionalisme yang dimiliki. Dalam kehidupan masyarakat barat model rasionalisme akan mewarnai semua aspek kehidupan. Menurut Weber, rasionalitas memiliki empat macam model, yaitu :
·         Rasionalitas tradisional.
·         Rasionalitas yang berorientasi nilai.
·         Rasionalitas afektif.
·         Rasionalitas instrumental.
            Weber melihat bahwa pada wilayah Eropa yang mempunyai perkembangan industrial kapital pesat adalah wilayah yang mempunyai penganut protestan. Bagi Weber, ini bukan suatu kebetulan semata, nilai-nilai protestan menghasilkan etik budaya yang menunjang perkembangan industrial kapitalis. Protestan Calvinis merupakan dasar pemikiran etika protestan yang menganjurkan manusia untuk bekerja keras, hidup hemat dan menabung. Pada kondisi material yang hampir sama, industrial capital ternyata tidak berkembang di wilayah dengan mayoritas Katholik, yang tentu saja tidak mempunyai etika protestan.


2.      Tinjauan tentang Interaksi Sosial
Bentuk umum proses sosial adalah interaksi sosial, oleh karena itu interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas dalam masyarakat.
Bentuk lain dari proses sosial hanya merupakan bentuk-bentuk khusus dari interaksi sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan sosial dinamis yang menyangkut hubungan antara orang perorangan, dengan kelompok manusia (Syahrial Syarbaini dan Rudiyanta, 2009: 25-26).
Menurutr Soerjono Soekanto bentuk umum proses sosial ialah interaksi sosial, sedangkan bentuk khususnya adalah aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis menyangkut hubungan antara orang perorangan, antara kelompok manusia, maupun antara orang-perorangan dengan kelompok manusia. Syarat terjadinya interaksi sosial adalah adanya kontak sosial dan adanya komunikasi (Burhan Bungin, 2009: 55).

a.      Aspek interaksi sosial
Setiap individu berhubungan dengan individu lain, baik hubungan sosial antara individu dengan indivdu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok, hubungan sosial itu memiliki aspek-aspek sebagai berikut (Slamet Santoso, 2004 :11) :
1.      Adanya hubungan
Setiap interaksi sudah barang tentu terjadi karena adanya hubungan antara individu dengan individu maupun antara individu dengan kelompok, serta hubungan antara kelompok dengan kelompok. Hubungan antara individu dengan individu ditandai dengan antara lain: tegur sapa, berjabat tangan, bertengkar, dll.
2.      Ada individu
Setiap interaksi sosial menuntut tampilnya individu-individu yang melaksanakanhubungan. Hubungan sosial itu terjadi karena adanya peran serta dari individu satu dan individu yang lain, baik secara perseorangan maupun kelompok.
3.      Ada tujuan
Setiap interaksi mmiliki tujuan tertentu seperti mempengaruhi individu lain. Misalnya, seorang ibu rumah tangga yang sedang berbelanja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di pasar dan menawar barang yang akan dibelinya, hal itu adalah salah satu fungsi untuk mempengaruhi individu lain agar mau menuruti apa yang dikehendaki oleh si ibu pembeli tersebut.
4.      Adanya hubungan dengan struktur dan fungsi kelompok
Ini terjadi karena individu dalam hidupnya tidak terpisah dari kelompok. Disamping itu, tiap-tiap individu dalam hidupnya tidak tepisah dari kelompok. Individu dikatakan sebagai mahluk sosial yang memiliki fungsi dalam kelompoknya. Contoh; seorang kepala desa yang memiliki fungsi untuk membentuk anggota masyarakatnya menjadi masyarakat yang damai, tertib aman dan sejahteera, dan untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan pula keikutsertaan dari setiap anggota masyarakatnya. Jadi dalam hal ini setiap individu ada hubunganya dengan struktur dan fungsi sosial.
b.      Macam-macam interaksi sosial
Upaya manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dilaksanakan melalui proses sosial yang disebbut interaksi sosia, yaitu hubungan timbale balik antara individu dengan individu, individu dengan  kelompok atau kelompok dengan kelompok di dalam masyarakat.
Dalam kenyataan sehari-hari terdapat 3 macam interaksi sosial (Taufik Rahman, 2000 :21-22):
1.      Interaksi antara individu dengan individu
Interaksi ini dapat terwujud dalam bentuk berjabat tanagan, saling menegur, bercakap-cakap, atau mungkin bertengkar.
2.      Interaksi antara individu dengan kelompok
Interaksi ini dapat secara konkrit kita contohkan misalnya, dilihat seorang orator sedang berpidato di depan orang banyak. Bentuk interaksi ini menunjukan bahwa kepentingan seorang individu berhadapan dengan kepentingan kelompok.
3.      Interaksi antara kelompok dan kelompok
Bentuk interaksi antara kelompok dan kelompok menunjukan bahwa kepentingan individu dalam kelompok merupakan satu kesatuan, berhubungan dengan kepentingan individu dalam kelompok yang lain. Setiap tindakan individu dalam interaksi ini merupakan bagian dari kepentingan kelompok.

c.       Bentuk-bentuk interaksi sosial
Bentuk interaaksi sosial dapat berupa kerjasama, akomodasi, persaingan, dan pertikaian. Konflik selalu menuju pada penyelesaian, namun dalm prosesnya dapat berkondisi sementara, yang disebut akomodasi. Ada juga yang menganggap akomodasi merupakan bentuk keempat dari interaksi sosiall (Syahrial Syarbaini dan Rudiyanta,2009: 28).
Menurut Gilin dan Gilin (dalam Burhan Bungin, 2009: 58-63) menjelaskan bahwa ada dua golongan proses sosial yang merupakan akibat interaksi sosial, yaitu:
1.      Proses Asosiatif.
Proses asosiatif adalah sebuah proses yang terjadi saling pengertian dan kerjasama timbal balik antara orang per orang atau kelompok satu dengan lainnya, dimana proses ini menghasilkan pencapaian tujuan bersama. Macam proses asosiatif yaitu:
a.       Kerjasama adalah usaha bersama individuatau kelompok untuk mencapai satu atau beberapa tujan bersama.
b.      Akomodasi banyak digunakan dalam dua makna  pertama adalah  proses yang menunjukan pada keadaan seimbangdalam interaksi sosial antara individu dan antar kelompok dalam masyarakat terutama yang ada hubungannya dengan norma dan nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Kedua, adalah menuju pada proses untuk meredakan suatu pertentangan yang terjadi di maysarakat. Proses akomodasi ini menuju pada tujuan dengan mencapai suatu kestabilan.
c.       Asimilasi, yaitu suatu proses percampuran dua atau lebih kebudayaan yang berbeda akibat dari proses sosial, kemudian menghasilkan budaya sendiri yang berbeda dengan budaya asalnya.

2.      Proses Disosiatif
Proses disosiatif merupakan proses perlawanan yang dilakukan individu-individu dan kelompok dalam proses sosial diantara mereka pada suatu masyarakat. Bentuk-bentuk proses disosiatif adalah sebagai berikut:
a.       Persaingan, merupakan proses sosial, dimana individu atau kelompok berjuang dan bersaing untuk mencari keuntungan pada bidang-bidang kehidupan yang menjadi pusat perhatian umum dengan cara menarik perhatian public atau mempertajam prasangka yang telah ada, namun tanpa menggunakan ancaman atau kekerasan.
b.      Kontravensi, adalah proses sosial yang berada antara persaingan dan pertikaian atau konflik. Kontravensi terjadi dimana ada pertentangan pada tataran konsep dan wacana, serta berusaha menggagalkan tercapainya tujuan dari pihak lain.
c.       Konflik atau pertikaian, adalah proses sosial dimana individu atau kelompok memiliki perbedaan-perbedaan dalam hal emosi, unsur kebudayaan, perilaku, prinsip, ideologi, maupun kepentingaan dengan pihak lain. Perbedaan tersebut menjadi suatu pertikaian dimana pertikaian dapat menghasilkan ancaman atau kekerasan fisik.
3.      Tinjauan mengenai Globalisasi

Globalisasi merupakan suatu proses dibentuknya suatu tatanan, aturan, dan sistem yang berlaku bagi seluruh bangsa-bangsa di dunia. Globalisasi tidak mengenal batas-batas wilayah, bahkan tidak mengenal aturan lokal, regional, kebijakan Negara yang dapat mengurangi ruang gerak masuknya nilai, ide, pikiran atau gagasan yang dianggap sudah merupakan kemauan masyarakat dunia harus dihilangkan (Sunarso, 2008:221). Globalisasi berlaku disemua bidang kehidupan, seperti politik, ekonomi, sosial, budaya dan sebagainya.

Globalisasi digambarkan sebagai semua proses yang merujuk kepada penyatuan seluruh warga dunia menjadi sebuah kelompok masyarakat global. Namun, pada kenyataanya globalisasi merupakan sebuah penyatuan yang bersifat semu, karena nilai-nilai sosial, ekonomi, dan budaya di dominasi oleh nilai-nilai yang sebenarnya asing bagi mayoritas warga dunia.

Dengan didukung teknologi komunikasi yang begitu canggih, dampak globalisasi tentu sangat kompleks. Kemajuan teknologi ini akan memungkinkan tiap individu memperoleh informasi darimanapun dalam waktu yang singkat. Interaksi antar individu juga semakin meningkat dan melampaui batas-batas negara. Berbagai barang dan informasi dengan berbagai tingkatan kualitas tersedia untuk dikonsumsi. Akibatnya akan mengubah pola pikir, sikap, dan tingkah laku manusia. hal seperti ini kemungkinan juga dapat mengakibatkan perubahan dalam aspek kehidupan, antara lain hubungan kekeluargaan, kemasyarakatan, kebangsaan, atau secara umum berpengaruh padasistem budaya bangsa.

Ada dua hal sekaligus yang dihadirkan oleh kemajuan teknologi. Pertama, globalisasi informasi, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial maupun budaya yang diakibatkan oleh luasnya dan cepatnya jaringan komunikasi. Kedua, semakin menonjolnya peran satuan-satuan kecil dalam masyarakat, seperti suku, golongan, kelompok bahkan individu yang diakibatkan makin mudahnya individu memperoleh informasi lengkap yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan bagi diri sendiri, kelompok, suku ataupun golongan (Sunarso, 2008: 227).

Globalisai informasi disatu pihak memang menambah khasanah pengetahuan sebagai bahan pertimbangan yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan. Akan tetapi, informasi yang tersiar dalam proses globalisasi itu tentu memuat kepentingan-kepentingan, nilai-nilai budaya ataupun ideologi-ideologi dari sumber-sumber informasi tersebut. Kepentingan-kepentingan tersebut tentu tidak sepenuhnya sejalan dengan kepentingan nasional dan nilai-nilai budaya bangsa. Begitu pula makin besarnya peranan kelompok, golongan, suku bahkan individu mempunyai arti positif dalam rangka meningkatkan mutu sumber daya Indonesia. Akan tetapi, juga menimbulkkan kewaspadaan karena dapat menjurus kearah pengagungan individu, pendewaan kelompok, merosotnya toleransi beragama, nasionalisme berkurang, dan sikap-sikap eksklusif lainnya.

Menurut Sunarso (2008: 226) secara lebih rinci dampak globalisasi bagi Indonesia baik yang bersifat positif ataupun negatif dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
a.       Indonesia menjadi lebih mudah mendapatkan barang, jasa, maupun informasi yang diperlukan, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.
b.      Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa menjadi pasar yang termudah bagi negara-negara lain.
c.       Globalisasi dengan isu utamanya demokratisasi dan hak asasi manusia, tanpa sikap waspada masyarakat akan termakan isu-isu yang tidak bertanggung jawab yang berkedok demokrasi, hak asasi dan kebebasan.
d.      Globalisasi menjadi media yang praktis bagi menyebarnya nilai-nilai budaya asing kedalam wilayah Indonesia, yang harus diwaspadai tentu nilai-nilai yang bersifat negatif.

F.     METODE PENGUMPULAN DATA

A.    LOKASI PENELITIAN

Penelitian tentang perubahan sosial yang ada di masyarakat sedulur sikep sukowilo ini mengambil lokasi  di wilayah Pati, Jawa Tengah. Penelitian ini mengambil lokasi tersebut karena ingin mengetahui perubahan-perubahan sosial apa saja yang terjadi di masyarakat samin yang tinggal di Pati, Jawa Tengah.


B.     WAKTU PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan pada waktu:
1.      Hari           : Sabtu
2.      Tanggal     : 27 April 2013

C.     TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Penelitian yang dilakukan memerlukan beberapa teknik untuk mengumpulkan data, dimana masing-masing teknik tersebut saling melengkapi satu sama lain. Adapun teknik-teknik yang digunakan adalah sebagai berikut:

1.      Wawancara
Teknik wawancara ini dilakukan dengan membuat pedoman wawancara yang relevan dengan permasalahan yang kemudian digunakan untuk tanya jawab. Teknik wawancara adalah adalah cara yang digunakan jika seseorang ingin mendapatkan data-data atau keterangan secara lisan dari seorang responden. Dalam teknik ini kami menggunakan metode wawancara terstruktur dan tidak terstruktur, terlebih dahulu penulis menentukan individu-individu yang akan dijadikan informan yaitu orang yang dituakan oleh masyarakat di sedulur sikep, Pati, Jawa Tengah, yaitu bapak guritno dan keluarganya.

2.      Observasi
Observasi dilakukan ditempat-tempat yang akan dijadikan sebagai objek penelitian, yaitu wilayah tempat tinggal masyarakat samin, dan di rumah asli orang samin.
Peneliti mengamati perilaku masyarakat samin, bagaimana interaksi yang terjadi di dalamnya, dan perubahan-perubahan sosial yang terjadi disana.

3.      Studi Pustaka
Teknik lain dalam pengumpulan data ini adalah melalui studi pustaka, hal ini sangat penting sekali untuk mengetahui relevansinya dengan data juga untuk menerapkan metode-metode penelitian serta memperdalam teori tentang perubahan sosial budaya.

4.      Dokumentasi
Hal ini dilakukan dengan cara mengkaji sumber-sumber tertulis yang berkaitan dengan pokok bahasan permasalahan. Adapun sumber yang penulis gunakan dalam penulisan adalah buku-buku, internet, media masa yang relevan dan berkaitan dengan pokok permaslahan. Dokumentasi meliputi pula gambar-gambar dan arsip mengenai serangkaian kegiatan dalam pengumpulan data.








BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN

            Dari hasil  penelitian kami masyarakat samin di daerah Pati, Jawa Tengah sudah mengalami perubahan-perubahan di berbagai bidang. Dari data wawancara yang diperoleh maupun dari hasil observasi yang dilakukan bisa dijelaskan berbagai perubahan – perubahan sosial yang terjadi di masyarakat sedulur sikep tersebut.
            Di masyarakat yang beranggotakan 234 kepala keluarga ini memiliki berbagai nilai-nilai yang dipegang teguh, seperti adat perkawinan, masyarakat disana tidak menggunakan adat perkawinan secara sipil atau pemerintahan, tetapi hanya menggunakan adat masyarakat mereka. Mereka berpandangan bahwa istri mereka itu milik orang tuanya bukan pemerintah jadi mereka hanya mengungkapkan janji sehidup selamanya, dan tidak perlu di pemerintahan. Masyarakat disana pun menganggap usia itu tidak berpengaruh terhadap pernikahan, tua ataupun muda itu sama saja, yang menentukan adalah kesiapan untuk menjalani pernikahan.
Masyarakat samin sendiri menjadi prototype bagi para pengusaha yang akan menambang hasil-hasil bumi dari gunung kendeng seperti, bahan-bahan semen, dll. Masyarakat disini tidak ingin alamnya dirusak bahkan ada beberapa warga mereka yang harus rela dipenjara akibat mereka melawan para pemilik-pemilik modal yang ingin menambang hasil dari gunung kendeng tersebut.
            Di masyarakat samin tersebut menjunjung adat berpakaian yaitu sesuai dengan kesenangan mereka. Tetapi dilarang menggunakan menggunakan celana panjang, karena menurutnya celena panjang merupakan celana-celana peninggalan orang-orang belanda. Tetua masyarakat samin yang dahulu yaitu mbah  Tarno yang menyarankan hal tersebut agar dilaksanakan oleh masyarakat samin. Tetapi saat kami melakukan observasi dan mengamati hal tersebut ternyata sudah banyak mengalami perubahan, masyarakat disana terutama para kaum muda memakai celana panjang, hal tersebut membuktikan bahwa telah terjadi perubahan-perubahan sosial di masyarakat tersebut.
            Terkait dengan pemerintahan masyarakat suku samin tersebut sebenarnya enggan untuk memilih, tetapi karena banyaknya paksaan mereka akhirnya ikut melakukan pemilu. Hal tersebut menegaskan bahwa masyarakat samin juga mengalami perubahan di bidang politik, yang tadinya mereka enggan bahkan tidak mau memilih tetapi Karena ada berbagai faktor baik dari intern ataupun dari faktor ekstern yang mendorong mereka sangat kuat, sehingga akhirnya mereka mengalami perubahan untuk melakukan pemilihan umum. Meskipun mereka masih belum objektif dalam memilih, karena mereka hanya berpandangan bahwa jika masyarakat samin yang laki-laki maka mereka akan memilih calon yang perempuan, ataupun jika harus memilih antara gambar manusia ataupun hewan maka mereka akan memilih gambar manusia. Mereka juga enggan memilih karena mereka berpandangan bahwa Dewan Perwakilan Rakyat itu sama sekali tidak mewakili rakyat. Jadi percumah saja mereka memilih.
            Masyarakat samin di daerah tersebut pun berpandangan bahwa mereka tidak bergantung pada pemerintah, karena  mereka berusaha sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya bukan bergantung pada pemerintah, bahkan jika terkadang ada bantuan untuk mereka dari pemerintah mereka menolaknya. Karena mereka sudah merasa siap dengan menghadapi kehidupannya.
            Masyarakat samin memilih untuk tidak bersekolah, hal tersebut karena mereka beranggapan bahwa sekolah itu tidaklah penting, karena percumah jika bersekolah tinggi-tinggi akhirnya hanya untuk membohongi dan membodohi orang (korupsi, kolusi, nepotisme). Mereka juga berpandangan bahwa jika bersekolah tinggi-tinggi nantinya juga belum tentu bisa bekerja, belum tentu bisa menghasilkan uang yang banyak. Yang penting bagi mereka adalah mengajari anaknya bagaimana cara untuk mengolah ladang, mencangkul, bertani, dan lain sebagainya sebagai bekal mereka menghidupi keluarganya kelak. Mereka juga berpandangan bahwa  merka hanya menjaga keseimbangan alam, maksudnya mereka sudah rela harus menjadi petani, yang bekerja panas-panas, cape, penuh kerja keras, karena untuk menjaga keseimbangan, jika semua orang menginginkan kerja dikantoran, kerja enak, tidak berpanas-panasan nantinya kehidupan dimuka bumi ini tidak akan seimbang. Karena siapa yang akan menyediakan bahan-bahan makanan, beras, sayuran dll jika semuanya ingin bekerja dikantoran.
            Tetapi dari observasi yang penulis lakukan, penulis menyimpulkan sudah ada perubahan-perubahan sosial yang terjadi didalamnya, banyak dari warga masyarakat samin yang bersekolah, bahkan sampai pada tingkat perguruan tinggi, hal tersebut membuktikan bahwa perubahan secara evolusi terjadi di masyarakat samin.
            Masih banyak perubahan-perubahan sosial yang terjadi dimasyarakat sikep, contohnya adalah penggunaan peralatan-peralatan elektronik seperti handphone, kamrea, handycam, sound system, dan lain sebagainya. Masyarakat disana sudah mulai menggunakan peralatan-peralatan modern zaman sekarang ini. Mungkin banyak faktor yang melandasi hal itu terjadi seperti globalisasi, tuntutan zaman, dan lain-lain. Tatapi faktor terbesar yang mendorong perubahan-perubahan itu terjadi adalah karena mereka menyesuaikan dengan kemajuan zaman. Misalnya penggunaan sound system, jika tidak ada microphone, dll maka akan sangat sulit ketika harus berbicara dihadapan banyak orang dengan tanpa pengeras suara. Maka mungkin hanya sebagian orang saja yang dapat mendengar perkataannya sedangkan yang lainnya tidak, hal itu yang mendorong mereka menggunakan sound system agar mempermudah pekerjaan mereka. Penggunaan alat-alat elektronik lainnya sepertio handphone juga disebabkan oleh faktor-faktor yang sama, yang intinya mereka mengikuti perkembangan zaman karena tuntutan oleh karena itu masyarakat samin mengalami perubahan-perubahan.
            Dari sarana transportasi pun sudah tergolong kepada masyarakat yang maju, mereka sudah mengalami berbagai perubahan-perubahan. Dari observasi yang dilakukan mereka sudah menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasinya, tentu itu sudah sangat mengalami perubahan.
            Masyarakat samin disanapun sudah mengenal yang namanya organisasi, bahkan mereka mengikuti berbegai organisasi seperti organisasi Sindawareh yaitu kelompok organisasi yang terdiri dari ibu-ibu warga masyarakat disitu yang juga memiliki berbagai program kerja yang ada. Adapula organisasi JMPPK yang berfungsi sebagai pengamat sekaligus pelindung penggunungan kendeng.  Selain itu juga terdapat kelompok-kelompok tani, paguyuban ladang sikep (tentang ketahanan pangan), dan juga Serikat Petani Pati. Tentu hal tersebut menunjukan berbagai perubahan-perubahan sosial yang terjadi di masyarakat samin. Meskipun organisasi-organisasi yang ada belum berbadan hokum hanya paguyuban saja atau berdasarkan kerukunan saja.










BAB III
KESIMPULAN

            Masyarakat samin di daerah Pati, Jawa Tengah, sudah mengalami berbagai perubahan-perubahan sosial di dalamnya, baik dari bidang ekonomi, kebudayaan,  transportasi, pendidikan, teknologi maupun dalam bidang politik.
            Sebagai contohnya di masyarakat samin tersebut menjunjung adat berpakaian yaitu sesuai dengan kesenangan mereka. Tetapi dilarang menggunakan menggunakan celana panjang, karena menurutnya celena panjang merupakan celana-celana peninggalan orang-orang belanda. Tetapi saat kami melakukan observasi dan mengamati hal tersebut ternyata sudah banyak mengalami perubahan, masyarakat disana terutama para kaum muda memakai celana panjang, hal tersebut membuktikan bahwa telah terjadi perubahan-perubahan sosial di masyarakat tersebut.
            Dari sarana transportasi pun sudah tergolong kepada masyarakat yang maju, mereka sudah mengalami berbagai perubahan-perubahan. Dari observasi yang dilakukan mereka sudah menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasinya, tentu itu sudah sangat mengalami perubahan.
            Pada intinya masyarakat samin telah mengalami perubahan-perubahan sosial di segala bidang di dalamnya, hal itu dikarenakan berbagai faktor, baik dari intern maupun ekstern yang menyebabkan mereka berubah mengikuti perkembangan kemajuan zaman yang ada.






DAFTAR PUSTAKA

Bungin, Burhan. 2009. Sosioloogi Komunikasi: Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Rahman, Taufik D., Dkk. 2000. Panduan Belajar Sosiologi. Bogor: Yudhistira.

Santoso, Slamet. 2004. Dinamika Kelompok. Jakarta: Bumi Aksara.

Soenarso, dkk. 2008. Pendidikan Kewarganegaraan PKN Untuk Perguruan Tinggi. Yogyakarta:    UNY Press.

Syarbaini, Syahrial, dan Rudiyanta. 2009. Dasar-Dasar Sosiologi. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Taneko, Soleman B. 1984. Struktur dan Proses Sosial dari suatu Pengantar Sosiologi Pembangunan. Jakarta: Rajawali.













LAMPIRAN

Suasana wawancara bersama masyarakat samin
                                   Gambar rumah kendeng, masyarakat samin di Pati , Jawa Tengah