Sunday, 29 September 2013

WAWASAN NUSANTARA 2 (ZEE, Landas Kontinen, Batas Teritorial)

A.    Historis dan Yuridis Formal Wawasan Nusantara
            Untuk memahami proses pemikiran tentang wawasan nusantara perlu diadakan pendekatan secara Historis dan Yuridis. UUD 1945 tidak menentukan secara tegas mengenai batas-batas wilayah RI. Oleh karena itu, kita mengacu pada pasal II aturan peralihan UUD 1945 yang mengatakan bahwa segala badan Negara dan peraturan yang ada masih berlangsung berlaku selama belum diadakan yang baru menurut UUD ini.
            Pada zaman Hindia Belanda, keluarlah Ordenanzie (setingkat dengan UU) tentang Teritorial Zee En Maritime Krengen Ordenantie (ordenansi tentang laut territorial dan wilayah maritime). Dengan Ordenanzie ini ditentukan bahwa setiap pulau memiliki batas wilayah sendiri-sendiri dengan lebar 3 mil laut.
B.  Deklarasi Juanda
            Pada 13 Desember 1957 Pemerintah RI mengeluarkan “Deklarasi Juanda” yang digunakan untuk menggantikan Ordenasi wilayah territorial laut produk penjajahan belanda. Kemudian deklarasi tersebut dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 4/PRP/1960 yang isinya adalah:
a.       Perairan Indonesia adalah lautan wilayah beserta perairan pedalaman
b.      Laut wilayah territorial Indonesia selebar 12 millaut dari pulau-pulau terluar yang dihubungkan dengan garis lurus antara pulau satu dengan pulau lainnya.
c.       Apabila ada selat yang lebarnya kurang dari 24 mil laut NKRI tidak merupakan satu-satunya Negara tepi (disebelah wilayah RI ada Negara tetangga), maka batas wilayah laut RI ditarik pada tengah selat.
d.      Perairan pedalaman (perairan nusantara)adalah semua perairan yang terletak pada sisi dalam garis dasar.
e.       Hak lintas laut damai kapal perang asing diakui dan dijamin sepanjang tidak mengganggu keamanan dan keselamatan Negara Indonesia.
C.  Konsep Landas Kontinen
Sudah menjadi pendapat banyak Negara bahwa landas kontinen merupakan suatu kelanjutan dari daratan, sehingga wajar sumber kekayaan alam yang terdapat di bawah landas kontinen tersebut merupakan hak eksklusif Negara yang bersangkutan. Deklarasi tersebut sesuai dengan kebiasaan politik Negara yang dibenarkan pula oleh Hukum Internasional, yaitu bahwa suatu Negara pantai mempunyai penguasaan dan yurisdiksi yang eksklusif atas kekayaan mineral dan kekayaan lainnya dalam dasar laut dan tanah di bawahnya pada landas kontinen sampai kedalaman 200 meter. Untuk mencapai tujuan yang terkandung dalam Deklarasi Juanda tersebut. Pemerintah RI telah menyelesaikan soal-soal tentang garis landas kontinen dengan Negara-negara tetangga dan berdasarkan persetujuan batas kontinen tadi RI mempunyai kedaulatan atas kekayaan alam di landas kontinen seluas lebih kurang 800.000 mil persegi.
D.    Konsepsi Zone Ekonomi Eklusif (ZEE) 200 mil
        Saat ini telah ada lebih kurang 90 negara yang mengeluarkan pernyataan tentang ZEE, yang sering disebut “Zone Perikanan”. Indonesia adalah Negara kepualauan yang sebagian besar berbatasan dengan lautan dan sering dihadapkan pada tindakan sepihak oleh Negara-negara asing yang kapal-kapalnya masuk perairan wilayah Indonesia untuk “menguras” ikan. Oleh karenanya, seperti Negara-negara pantai lainnya yang telah mengumumkan ZEE, Indonesia pada tanggal 21 Maret 1980 mengumumkan tentang “ Deklarasi Zone Ekonomi Eksklusif Indonesia”, yang dikukuhkan dengan UU No. 5 Tahun 1983. Di dalam ZEE kebebasan pelayaran dan penerbangan internasional serta kebebasan pemasangan kabel dan pipa di bawah permukaan laut dijamin sesuai dengan hukum internasional.
E.     Batas Laut Teritorial
        Batas laut territorial adalah suatu batas laut yang ditarik dari sebuah garis dasar dengan jarak 12 mil kea rah laut. Sedangkan garis dasar adalah suatu batas laut yang menghubungkan titik-titik dari ujung-ujung terluar pulau di Indonesia. laut yang terletak di sebelah dalam garis dasar merupakan laut pedalaman. Di dalam batas laut territorial ini, Indonesia mempunyai hak kedaulatan sepenuhnya. Negara lain dapat berlayar di wilayah ini atas izin pemerintah Indonesia.

F.     Unsur-unsur Wawasan Nusantara
a.  Wadah, artinya antara kepulauan dengan wilayah perairan merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, yang batas-batasnya ditentukan oleh wilayah laut.
b. Isi, aspirasi bangsa Indonesia sebagai “isi” dari wawasan nusantara dapat dirinci menjadi cita-cita proklamasi, asas/sifat dan ciri-ciri, dan cara kerja. Cita-cita yang terkandung dalam wawasan nusantara adalah sebagaimana dirumuskan dalam pembukaan UUD 1945, yaitu mewujudkan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Cita-cita wawasan nusantara bertujuan untuk: melindungi segenap bangsa dan seluruh tanah air, mewujudkan kesejahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
c.  Tata laku, merupakan tindakan perilaku bangsa Indonesia dalam melaksanakan aspirasinya guna mewujudkan Indonesia sebagai kesatuan yang utuh menyeluruh dalam mencapai tujuan nasional. Tata laku meliputi tata laku batiniah dan tata laku lahiriah. Tata laku batiniah berwujud pengalaman falsafah pancasila yang melahirkan sikap mental sesuai kondisi lingkungan hidupnya dalam mewujudkan wawasan nusantara. Sedangkan tata laku lahiriah dituangkan dalam suatu pola tata laku yang dapat dirinci dalam tata perencanaan, tata pelaksanaan, dan tata pengendalian atau pengawasan.
G.          Wawasan Nusantara dan Integrasi Wilayah
         Wawasan nusantara sebagai “cara pandang” bangsa Indonesia yang melihat Indonesia sebagai kesatuan politik, ekonomi, sosial budaya dan hankam merupakan landasan dan dasar bagi bangsa Indonesia dalam menyelesaikan masalah dan ancaman baik dari dalam maupun luar.
H.          Wawasan Nusantara dan Integrasi Nasional
               Masyarakat Indonesia sangat heterogen dan pluralitas. Oleh karena itu, bagi integrasi sosial budaya unsure-unsurnya memerlukan nilai-nilai sebagai orientasi kolektif bagi interaksi antarunsur. Dalam hubungan ini ideology bangsa, nilai nasionalisme, kebudayaan nasional mempunyai fungsi strategis. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat menggantikan nilai-nilai tradisional dan primordial yang tidak relevan dengan masyarakat baru. Dengan demikian nilai nasionalisme memiliki nilai ganda, yaitu selain meningkatkan integrasi nasional, juga berfungsi menanggulangi dampak kapitalisme dan globalisasi serta dapat mengatasi segala hambatan ikatan primordial.
I.             Wawasan Nusantara dan Kerukunan Umat Beragama

           Kajian tentang agama sangat berperan dalam membentuk solidaritas sosial untuk mewujudkan kerukunan antarumat beragama. Karena nilai-nilai agama bisa memberi semangat bagi individu dan kelompok masyarakat dalam menghadapi krisis multidimensional yang tidak kunjung selesai. 

Monday, 23 September 2013

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Dari hari ke hari manusia tidak akan pernah terlepas dengan aktivitas kehidupan bermasyarakatannya. Dalam aktivitas tersebutlah terjadi interaksi antar individu, individu dan kelompok bahkan antar yang lain. Di antara semua tindakan berpola tersebut, perlu diadakan perbrdaan antara tindakan-tindakan yang dilaksanakannya menurut pola-pola yang tidak resmi dengan tindakan-tindakan yang dilaksanakannya menurut pola-pola resmi. Sistem tingkah laku sosial yang bersifat resmi serta adat istiadat dan norma yang mengatur tingkah laku itu, dan seluruh perlengkapannya guna memenuhi berbagai kompleks kebutuhan manusia dalam masyarakat, dalam ilmu sosiologi dan antropologi disebut pranata, atau dalam bahasa inggris institustion.1
contoh peristiwa, dapat kita kaji melalui contoh peristiwa yang diambil dari salah satu pemberitaan koran BRNAS JOGJA, yaitu dengan judul artikel Gelapkan Mobil dan Motor, Diburu Polisi. “Depok- Diduga sebagai pelaku tindak penggelapan mobil Honda Jazz B 8026 XO lelaki berinisial Awg diadukan kepolisi oleh Ahmad Rozali (27), Kamis (14/2) kemarin. Sementara seorang gadis brinisial Nov (24) diadukan ke polisi R Endhar Satwo Prihaton (36) karena diduga menggelapkan motor Honda Supra Fit AB 5541 RO. Penggelapan kedua pelaku terjadi di Jalan Wahid Hasyim, Dabag, Condongcatur dan di Wisma Sakinah Jalan Kaliurang Km 7, Ngaglik.”2
Dari kutipan berita di atas, menunjukkan bahwa masalah yang terjadi telah diserahkan oleh pihak kepolisian untuk meneyelesaikan kasus tersebut. Pola tindakan yang dilakukan oleh kepolisian memiliki sistem aturan atau prosedur yang telah ditetapkan menurut hukum negara yang ada.
 


1Koentjaraningrat.PENGANTAR ILMU ANTROPOLOGI. RINEKA CIPTA.Jakarta. p.132
2BERNAS JOGJA. Gelapkan Mobil dan Motor, diburu Polisi dalam rubrik SLEMAN. Ed. Senin, 18 Februari 2013. P. 3
Dengan penyerahan kewenangan penyelesaian perkara tersebut meredam adanya kericuhan akibat kasus penipuan tersebut dalam masyarakat yang mungkin saja bisa bertindak gegabah bahkan bisa menimbulkan korban. Maka dari itu, dalam kepolisian yang memiliki norma-norma tertentu dalam penyelesaian perkara, menunjukkan fungsi norma sebagai sarana penyelesaian perkara, tanpa terjadi disintegrasi sosial yang terlampau besar, dan bisa menciptakan integrasi dalam keluarga bahkan masyarakat agar lebih berhati-hati, sehingga akan timbul rasa saling menjaga satu sama lain.
B.     RUMUSAN MASALAH
a.       Apa yang disebut dengan norma dan integrasi sosial?
b.      Bagaimana proses norma sosial dalam menciptakan integrasi sosial?
C.     TUJUAN
a.       Mengetahui apa yang dimaksud dengan norma sosial dan integrasi sosial.
b.      Dapat mengindentifikasi cara norma sosial dalam menciptakan integrasi sosial.





BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Norma Sosial
Norma social merupakan aturan-aturan dengan sanksi-sanksi sebagai pedoman untuk melangsungkan hubungan social dalam masyarakat yang berisi perintah, larangan, anjuran agar seseorang dapat bertingkah laku yang pantas guna menciptakan ketertiban, keteraturan, dan kedamaian dalam masyarakat.
Norma juga dilengkapi dengan sanksi-sanksi yang dimaksudkan untuk mendorong bahkan menekan individu maupun kelompok atau masyarakat secara keseluruhan untuk mencapai nilai-nilai sosial. Nilai dan norma sosial merupakan dua hal yang saling berkaitan walaupun keduanya dapat dibedakan. Nilai merupakan sesuatu yang baik, diinginkan, dicita-citakan, dan dianggap penting oleh masyarakat, sedangkan norma merupakan kaidah atau aturan berbuat dan berkelakuan yang dibenarkan untuk mewujudkan cita-cita itu. Singkatnya, apabila nilai merupakan pola perilaku yang diinginkan, maka norma dapat disebut sebagai cara-cara perilaku sosial yang disetujui untuk mencapai nilai tersebut.
B.     Pengertian Integrasi Sosial
Integrasi adalah proses dimana komponen yang berbeda bergabung menjadi satu. Dalam sosiologi integrasi merupakan istilah yang banyak digunakan untuk menggambarkan penggabungan dari beberapa kelompok dalam masyarakat untuk menafsirkan suatu hal. Salah satu ciri dari integrasi sosial yaitu kedua kelompok membuat modifikasi / perubahan, misalnya kebiasaan atau tradisi. Ketika ada penyesuaian sepihak disebut asimilasi.
Integrasi sosial berkaitan erat dengan perubahan individu yang masuk ke lingkungan baru di mana seorang individu harus disosialisasikan ke seluruh masyarakat. Individu harus disosialisasikan ke masyarakat, untuk menciptakan kebersamaan dan menciptakan kesatuan yang utuh dalam suatu komunitas masyarakat.
Integrasi sosial, dalam sosiologi dan ilmu sosial lainnya, adalah gerakan kelompok minoritas seperti etnis minoritas, pengungsi, dan imigran yang masuk ke dalam arus utama masyarakat baru. Integrasi sosial membutuhkan kemahiran untuk dapat diterima masyarakat di lingkungan baru yaitu menerapkan hukum masyarakat baru dan penerapan seperangkat nilai-nilai masyarakat. Tidak memerlukan asimilasi dan tidak perlu mengubah budaya yang dimilikinya, tapi perlu melupakan beberapa aspek budaya individu / kelompok yang tidak konsisten dengan hukum dan nilai-nilai masyarakat baru itu sendiri. Dalam masyarakat yang toleran dan terbuka, anggota kelompok minoritas dapat sering menggunakan integrasi sosial untuk mendapatkan akses penuh untuk mendapatkan hak dan layanan yang tersedia bagi anggota dari arus utama masyarakat.
C.     Fungsi Norma Sosial dalam Menciptakan Integrasi Sosial
Norma dalam masyarakat sangat berperan dalam memberikan stabilitas kehidupan. Coba bayangkan jika di suatu daerah tidak terdapat suatu nilai dan norma social yang berlaku, pastilah daerah tersebut akan mengalamu kekacauan dan pola kehidupannya akan mengalami penyimpangan. Misalnya, di daerah Papua dimana daerah tersebut belum mampu melembagakan suatu norma, akibatnya masyarakat di sana tidak tahu bagaimana cara berpakaian yang sopan di depan umum, bagaimana cara mereka mengikat tali perkawinan yang suci sesuai agama, dan bagaimana mereka bersosialisasi dengan damai.
Peran norma secara umum adalah untuk mengatur pola kehidupan masyarakat agar pola perilaku yang ditunjukkan seimbang, tidak merugikan, serta tidak menimbulkan ketidakadilan. Dalam masyarakat modern saat ini memang sangat dibutuhkan peran dari nilai dan norma. Hal ini digunakan agar masyarakat modern tidak berlaku sekehendak hatinya.
Secara lebih rinci fungsi norma dalam masyarakat antara lain sebagai berikut:
1.      Pedoman hidup yang berlaku bagi semua anggota masyarakat pada wilayah tertentu.
2.      Memberikan stabilitas dan keteraturan dalam kehidupan bermasyarakat.
3.      Mengikat warga masyarakat, karena norma disertai dengan sanksi dan aturan yang tegas bagi para pelanggarnya.
4.      Menciptakan kondisi dan suasana yang tertib dalam masyarakat.
5.      Adanya sanksi yang tegas akan memberikan efek jera kepada para pelanggarnya, sehingga tidak ingin mengulangi perbuatannya melanggar norma.




BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Norma social merupakan aturan-aturan dengan sanksi-sanksi sebagai pedoman untuk melangsungkan hubungan social dalam masyarakat yang berisi perintah, larangan, anjuran agar seseorang dapat bertingkah laku yang pantas guna menciptakan ketertiban, keteraturan, dan kedamaian dalam masyarakat.
Integrasi sosial, dalam sosiologi dan ilmu sosial lainnya, adalah gerakan kelompok minoritas seperti etnis minoritas, pengungsi, dan imigran yang masuk ke dalam arus utama masyarakat baru. Integrasi sosial membutuhkan kemahiran untuk dapat diterima masyarakat di lingkungan baru yaitu menerapkan hukum masyarakat baru dan penerapan seperangkat nilai-nilai masyarakat.
Secara lebih rinci fungsi norma dalam masyarakat antara lain sebagai berikut:
1.      Pedoman hidup yang berlaku bagi semua anggota masyarakat pada wilayah tertentu.
2.      Memberikan stabilitas dan keteraturan dalam kehidupan bermasyarakat.
3.      Mengikat warga masyarakat, karena norma disertai dengan sanksi dan aturan yang tegas bagi para pelanggarnya.
4.      Menciptakan kondisi dan suasana yang tertib dalam masyarakat.
5.      Adanya sanksi yang tegas akan memberikan efek jera kepada para pelanggarnya, sehingga tidak ingin mengulangi perbuatannya melanggar norma.





DAFTAR PUSTAKA
Budiarti, Atik Catur. 2009. Sosiologi Kontekstual. Klaten: PT. Macanan Jaya Cemerlang.
BERNAS JOGJA. Ed. Senin, 18 Februari 2013.Gelapkan Mobil dan Motor, diburu Polisi dalam rubrik SLEMAN
Koentjaraningrat.2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta
Soekanto, Soerjono. 2010. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.

http://sulaimanelfatih.blogspot.com/2011/12/fungsi-norma-sosial-dalam-menciptakan.html
KATA PENGANTAR


Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kelancaran bagi kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang norma-norma sosial.Tak lupa pula ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Ibu Puji Lestari, M.Hum selaku dosen pranata sosial yang telah memberikan tugas makalah ini sehingga dapat memberikan tambahan ilmu tentang norma-norma sosial bagi kami.Kemudian kami ucapkan terima kasih kepada teman-teman serta pihak-pihak yang telah mendukung dalam pembuatan makalah ini.Mengingat kami masih dalam tahap pembelajaran, maka kami mohon maaf jika terdapat banyak kesalahan dalam pembuatan makalah ini.Kritik dan saran sangat kami harapkan demi perbaikan untuk tugas selanjutnya.Semoga makalah yang sederhana ini dapat menambah sedikit pengetahuan bagi kami semua.
                                                                 


Yogyakarta, 12 Februari 2013



                                                                                                            Penulis



BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Kata norma sudah tidak asing lagi di telinga kita. Norma merupakan suatu aturan yang berlaku di dalam masyarakat yang berfungsi untuk mengatur masyarakat dan memiliki sanksi apabila seseorang melanggarnya. Norma sangat penting bagi masyarakat karena norma digunakan untuk mengatur segala aktivitas manusia agar berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku. Dalam hidup bermasyarakat norma sangat diperlukan untuk membatasi perilaku-perilaku manusia agar tidak terjadi penyimpangan sosial di dalam lingkungan masyarakat itu sendiri.
Norma menjadi salah satu alat untuk mengendalikan perilaku-perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan mereka. Di dalam norma itu sendiri tentunya terdapat sanksi baik tertulis maupun tidak tertulis yang dapat memberikan pelajaran bagi manusia. Dengan adanya sanksi tersebut setidaknya dapat mengurangi penyimpangan sosial yang terjadi di dalam masyarakat.
Norma-norma yang ada dibentuk agar  hubungan antar manusia di dunia ini dapat terlaksana dengan baik, tentram dan damai.Norma sosial di dalam masyarakat mempunyai kekuatan yang memikat yang berbeda-beda. Ada norma yang memiliki kekuatan lemah dan ada pula yang terkuat. Norma sosial dapat memberikan petunjuk atau pedoman bagi perilaku seseorang yang hidup di dalam masyarakat. Apabila tidak ada norma kehidupan manusia tidak akan berjalan dengan lancar.
Dari pemaparan diatas, penulis ingin menjelaskan tentang norma-norma sosial di dalam masyarakat.

B.     Rumusan Masalah

1.    Bagaimana pengertian norma sosial menurut para ahli?
2.    Bagaimana terbentuknya norma sosial?
3.    Apa saja ciri-ciri norma sosial?
4.    Jelaskan fungsi norma sosial bagi kehidupan manusia!
5.    Apa saja macam-macam norma sosial?

C.    Manfaat

1.    Mengetahui pengertian normasosial menurut para ahli.
2.    Mengetahui proses terbentuknya normasosial.
3.    Mengetahui ciri-ciri norma sosial yang ada di dalam masyarakat.
4.    Mengetahui fungsi norma sosial bagi kehidupan manusia.
5.    Mengetahui macam-macam norma sosial.



BAB II
PEMBAHASAN


A.    Pengertian Norma Sosial

Pengertian norma terbagi menjadi 2 yaitu:
·      Pengertian norma secara sempit => aturan atau kaidah yang mempunyai sanksi.
·      Pengertian norma secara luas => aturan atau kaidah yang lahir, tumbuh dan berkembang dalam masyarakat dan dijadikan sebagai pedoman dalam berperilaku.


v Pengertian norma sosial menurut para ahli:
ü Menurut Robert M.Z. Lawang, norma adalah patokan perilaku dalam suatu kelompok tertentu.
ü John J. Macionis, norma adalah aturan-aturan dan harapan-harrapan masyarakat yang memandu perilaku anggota-anggotanya.
ü Richard T. Schaefer & Robert P. Lamn, norma adalah standart perilaku yang mapan yang dipelihara oleh masyarakat.
ü Craig Calhoun, norma adalah aturan atau pedoman yang menyatakan tentang bagaimna seseorang seharusnya bertindak dalam situasi tertentu.
ü Broom & Selznic, norma adalah rancanngan ideal perilaku manusia yang memberikan batas-batas bagi anggota masyarakat dalam mencapai tujuan hidup.
ü Giddens, norma adalah prinsip atau aturan yang konkret yang seharusnya diperhatikan oleh masyarakat.
ü Soerjono Soekanto, norma adalah suatu perangkat agar hubungan di dalam suatu masyarakat terlaksana sebagaimana yang diharapkan.
ü Bellebaum, norma adalah alat untuk mengatur masyarakat agar orang bertingkah laku dalam suatu komunitas berdasarkan keyakinan dan sikap-sikap tertentu.
ü Isworo Hadi Wiyono, norma adalah peraturan atau petunjuk hidup yang memberi ancar-ancar perbuatan mana yang boleh dijalankan dan perbuatan mana yang harus dihindari.

Dari beberapa pendapat yang ada di atas dapat kita simpulkan bahwa norma adalah suatu patokan perilaku dalam suatu kelompok masyarakat yang di dalamnya berisi aturan-aturan yang membatasi perilaku masyarakat agar tidak terjadi penyimpangan.

B.     Terbentuknya Norma Sosial

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Tentunya di dalam melakukan aktivitasnya manusia membutuhkan bantuan orang lain. Agar aktivitas yang dilakukan masyarakat dapat berjalan dengan baik, lancar dan harmonis tentunya masyaakat membutuhkan suatu kondisi dan keadaan yang tertib dan nyaman. Suasana tertib dan nyaman tersebut akan tercipta apabila di dalam masyarakat terdapat aturan dan tata pergaulan. Aturan-aturan yang dimaksud adalah normasosial.
Hal ini jelas menunjukkan bahwa ada hubungan antara interaksi dengan terbentuknya norma sosial. Norma tentunya lahir karena adanya interaksi antar masyarakat.Masyarakat yang berinteraksi tentunya membutuhkan aturan dalam pergaulan agar aktivitas yang mereka lakukan dapat sesuai dengan yang diharapkan. Maka dari itu dibentuklah norma sosial yang dapat menjadi sebuah pedoman yang dapat digunakan untuk mengatur pola perilaku dan tata kelakuan yang pada akhirnya disepakati oleh seluruh masyarakat tersebut.

C.    Ciri-ciri Norma Sosial
Ada beberapa ciri yang dimiliki norma sosial.
a.    Pada umumnya norma sosial tidak tertulis atau lisan. Misalnya adat istiadat, tata pergaulan, kebiasaan, cara, dan lain sebagainya. Kecuali norma hukum sebagai tata tertib yang bersifat tertulis. Kaidah-kaidah ini disepakati oleh masyarakat dan sanksinya mengikat seluruh anggota kelompok atau masyarakat.
b.   Hasil kesepakatan dari seluruh anggota masyarakat pada wilayah tertentu. Hasil ini merujuk pada kebudayaan wilayah setempat mengenai tata kelakuan dan aturan dalam pergaulan.
c.    Bersifat mengikat, sehingga seluruh warga masyarakat sebagai pendukung sangat menaatinya dengan sepenuh hati.
d.   Ada sanksi yang tegas terhadap pelanggarnya sesuai dengan kesepakatan bersama.
e.    Norma sosial bersifat menyesuaikan dengan perubahan sosial. Artinya norma sosial bersifat fleksibel dan luwes terhadap perubahan sosial. Setiap ada keinginan dari masyarakat untuk berubah, norma akan menyesuaikan dengan perubahan tersebut. Meskipun tidak berubah seluruhnya, aturan ini pasti akan mengalami perubahan.

D.  Fungsi Norma Sosial
Fungsi norma dalam kehidupan antara lain:
a.         Pedoman hidup yang berlaku bagi semua anggota masyarakat pada wilayah tertentu
b.         Memberikan stabilitas dan keteraturan dalam kehidupan bermasyarakat
c.         Mengikat warga masyarakat karena norma disertai dengan sanksi dan aturan yang tega sebagi pelanggarnya
d.        Sebagai aturan yang digunakan untuk membatasi tingkah laku manusia
e.         Mengatur hubungan antara manusia dengan masyarakat

E.     Macam-macam Norma Sosial
Norma social dibagi menjadi 2 yaitu menurut kekuatan mengikat dan menurut batas-batas pada kelakuan individu.
1.   Menurut Kekuatan Mengikat
Norma-norma yang ada di dalam masyarakat mempunyai kekuatan mengikat yang berbeda-beda. Ada norma yang berdaya ikat lemah, sedang, dan kuat. Untuk dapat membedakan kekuatan mengikat norma-norma tersebut, dikenal empat pengertian norma, yaitu cara (usage), kebiasaan (folkways), tata kelakuan (mores), dan adat istiadat (custom).
a.    Cara (Usage )
Norma ini mempunyai daya ikat yang sangat lemah dibanding dengan kebiasaan.Cara (usage) lebih menonjol di dalam hubungan antarindividu. Suatu penyimpangan terhadap cara tidak akan mengakibatkan hukuman yang berat, tetapi hanya sekedar celaan. Misalnya, cara makan dengan mengeluarkan bunyi. Orang yang melakukannya akan mendapat celaan dari anggota masyarakat yang lain karena dianggap tidak baik dan tidak sopan.
b.   Kebiasaan (Folkways)
Kebiasaan mempunyai kekuatan mengikat yang lebih tinggi daripada cara (usage). Kebiasaan diartikan sebagai perbuatan diulang-ulang dalam bentuk yang sama yang membuktikan bahwa banyak orang menyukai perbuatan tersebut. Contohnya kebiasaan menghormati orang-orang yang lebih tua, membuang sampah pada tempatnya, mencuci tangan sebelum makan, serta mengucapkan salam sebelum masuk rumah. Setiap orang yang tidak melakukan perbuatan tersebut dianggap telah menyimpang dari kebiasaan umum yang ada dalam masyarakat. Nah, kebiasaan-kebiasaan apa saja yang kamu lakukan, baik di rumah maupuan di sekolah?
c.    Tata Kelakuan (Mores )
Apabila kebiasaan tidak semata-mata dianggap sebagai cara perilaku saja, tetapi diterima sebagai norma pengatur, maka kebiasaan tersebut menjadi tata kelakuan. Tata kelakuan mencerminkan sifat-sifat yang hidup dari kelompok manusia dan dilaksanakan sebagai alat pengawas oleh masyarakat terhadap anggota-anggotanya. Tata kelakuan di satu pihak memaksakan suatu perbuatan, namun di lain pihak merupakan larangan, sehingga secara langsung menjadi alat agar anggota masyarakat menyesuaikan perbuatan-perbuatannya dengan tata kelakuan tersebut. Dalam masyarakat, tata kelakuan mempunyai fungsi sebagai berikut.
Ø Memberikan batas-batas pada kelakuan individu
Setiap masyarakat mempunyai tata kelakuan masing-masing, yang seringkali berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Misalnya pada suatu masyarakat perkawinan dalam satu suku dilarang, tetapi di suku lain tidak ada larangan.
Ø Mengidentifikasikan individu dengan kelompoknya
Di satu pihak tata kelakuan memaksa orang agar menyesuaikan tindakan-tindakannya dengan tata kelakuan yang berlaku, di lain pihak diharapkan agar masyarakat menerima seseorang karena kesanggupannya untuk menyesuaikan diri.
Ø Menjaga solidaritas di antara anggota-anggotanya
Misalnya tata pergaulan antara pria dan wanita yang berlaku bagi semua orang, segala usia, dan semua golongan dalam masyarakat.
d.        Adat Istiadat (Custom )
Tata kelakuan yang berintegrasi secara kuat dengan polapola perilaku masyarakat dapat meningkat menjadi adat istiadat. Anggota masyarakat yang melanggar adat istiadat akan mendapatkan sanksi keras. Contohnya hukum adat masyarakat Lampung yang melarang terjadinya perceraian antara suami istri. Apabila terjadi perceraian, maka tidak hanya nama orang yang bersangkutan yang tercemar, tetapi juga seluruh keluarga, bahkan seluruh suku. Oleh karena itu, orang yang melakukan pelanggaran tersebut dikeluarkan dari masyarakat, termasuk keturunannya, sampai suatu saat keadaan semula pulih kembali. Hal lain yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan upacara adat khusus (yang biasanya membutuhkan biaya besar).
2.         Menurut Bidang-Bidang Kehidupan Tertentu
Apabila digolongkan menurut bidang kehidupan tertentu, dalam masyarakat ada enam golongan utama norma, yaitu norma agama, norma kesopanan, norma kelaziman, norma kesusilaan, norma hukum, dan mode.
a.         Norma Agama
Norma agama adalah suatu petunjuk hidup yang berasal dari Tuhan bagi penganut-Nya agar mereka mematuhi segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Para pemeluk agama mengakui dan berkeyakinan bahwa peraturan-peraturan hidup itu berasal dari Tuhan dan merupakan tuntunan hidup ke jalan yang benar. Daya ikat norma agama sebenarnya cukup kuat, namun karena sanksi yang diterima tidak langsung, masyarakat cenderung bersikap biasa-biasa saja apabila melanggar aturan yang telah digariskan agama.
Namun, bagi orang yang tingkat pemahaman agamanya tinggi, melanggar aturan dalam agama berarti dia akan masuk neraka kelak dalam kehidupan di akhirat. Contohnya larangan mengambil barang milik orang lain, larangan berdusta, larangan berzina, dan lain-lain.
b.        Norma Kesopanan
Norma kesopanan adalah peraturan hidup yang timbul dari pergaulan segolongan manusia dan dianggap sebagai tuntunan pergaulan sehari-hari sekelompok masyarakat.Peraturan hidup yang dijabarkan dari rasa kesopanan ini diikuti dan ditaati sebagai pedoman yang mengatur tingkah laku manusia dalam masyarakat.Norma kesopanan ini lebih bersifat khusus.Mengapa demikian?Karena setiap wilayah memiliki aturan dan tata pergaulan yang berbeda-beda. Selain itu, sesuatu yang dianggap sopan oleh suatu masyarakat tertentu belum tentu sopan untuk masyarakat lain. Misalnya, di sebagian besar negara Eropa, memegang kepala orang yang lebih tua merupakan hal yang biasa, bahkan pada peristiwa tertentu hal itu justru dianggap sebuah penghormatan.Namun, di Indonesia hal itu dianggap tidak sopan dan merupakan penghinaan.
c.         Norma Kelaziman
Segala tindakan tertentu yang dianggap baik, patut, sopan, dan mengikuti tata laksana seolah-olah sudah tercetak dalam kebiasaan sekelompok manusia disebut dengan norma kelaziman. Jumlah kelaziman sangat banyak dan hampir memengaruhi setiap tindakan dan gerak-gerik kita.Sifatnya pun berbeda-beda dari masa ke masa, dalam setiap bangsa, dan di setiap tempat.
Perbedaan sifat kelaziman itu disebabkan oleh berubahnya cara-cara untuk berbuat sesuatu dari masa ke masa.Serta tergantung pada kebudayaan yang bersangkutan.Umpamanya, masyarakat kita dulu makan dengan menggunakan tangan, kini sudah menggunakan sendok.Ada juga bangsa atau masyarakat yang tidak mengenal sendok, tetapi menggunakan sumpit.Orang yang melakukan penyimpangan dari kelaziman ini dianggap aneh, ditertawakan, atau diejek.

d.        Norma Kesusilaan
Norma kesusilaan dianggap sebagai aturan yang datang dari suara hati sanubari manusia.Peraturan-peraturan hidup ini datang dari bisikan kalbu atau suara batin yang diakui dan diinsyafi oleh setiap orang sebagai pedoman dalam sikap dan perbuatannya. Penyimpangan dari norma kesusilaan dianggap salah atau jahat, sehingga pelanggarnya akan diejek atau disindir. Misalnya, anak yang tidak menghormati orang tua akan diejek dan disindir karena tindakan itu dianggap tindakan asusila.
Apabila penyimpangan kesusilaan dianggap keterlaluan, maka pelakunya akan diusir atau diisolasi. Contohnya, orang yang melakukan perkawinan sumbang (incest)akan diusir dari lingkungan kelompok tempat tinggalnya karena tindakan itu dapat meresahkan masyarakat. Pelanggaran terhadap norma kesusilaan tidak dihukum secara formal, tetapi masyarakatlah yang menghukumnya secara tidak langsung.
e.         Norma Hukum
Semua norma yang disebutkan di atas bertujuan untuk membina ketertiban dalam kehidupan manusia, namun belum cukup memberi jaminan untuk menjaga ketertiban dalam masyarakat. Hal itu mengingat normanorma di atas tidak bersifat memaksa dan tidak mempunyai sanksi yang tegas apabila salah satu peraturannya dilanggar.
Oleh karena itu diperlukan adanya suatu norma yang dapat menegakkan tatanan dalam masyarakat serta bersifat memaksa dan mempunyai sanksi-sanksi yang tegas. Jenis norma yang dimaksud adalah norma hukum. Hukum adalah aturan tertulis maupun tidak tertulis yang berisi perintah atau larangan yang memaksa dan yang menimbulkan sanksi yang tegas bagi setiap orang yang melanggarnya.
Hukum sebagai sistem norma berfungsi untuk menertibkan dan menstabilkan kehidupan sosial. Selain itu, hukum juga berfungsi sebagai sistem kontrol sosial. Oleh sebab itu, setiap tindakan akan dikontrol oleh norma hukum dan hukum tersebut akan menjatuhkan sanksi terhadap orang yang melanggarnya. Akhirnya, hukum dapat mengaktifkan kembali suatu proses interaksi yang macet dan sekaligus menentukan ketertiban dalam hubungan. Misalnya, dalam kasus perselisihan wilayah Israel, Palestina, dan Lebanon yang berbuntut pada pengeboman wilayah Lebanon oleh Israel, dan PBB bertindak sebagai penengah. Ini menunjukkan bahwa hukum berlaku untuk memfungsikan hubungan antarkekuasaan dan menjamin ketertiban.


BAB III
PENUTUP


SIMPULAN
·           Norma adalah suatu patokan perilaku dalam suatu kelompok masyarakat yang di dalamnya berisi aturan-aturan yang membatasi perilaku masyarakat agar tidak terjadi penyimpangan.
·      Macam Norma Sosial :
Menurut Kekuatan Mengikat:
1.         Cara (usage)
2.         Kebiasaan (folkways)
3.         Tata Kelakuan (mores)
4.         Adat Istiadat (custom)
Menurut Bidang Kehidupan Tertentu:
1.         Norma Agama
2.         Norma Kesopanan
3.         Norma Kelaziman
4.         Norma Kesusilaan
5.         Norma Hukum

·      Ciri-ciri Norma Sosial
1.         Pada umumnya norma sosial tidak tertulis atau lisan.
2.         Hasil kesepakatan dari seluruh anggota masyarakat pada wilayah tertentu.
3.         Bersifat mengikat, sehingga seluruh warga masyarakat sebagai pendukung sangat menaatinya dengan sepenuh hati.
4.         Ada sanksi yang tegas terhadap pelanggarnya sesuai dengan kesepakatan bersama.
5.         Norma sosial bersifat menyesuaikan dengan perubahan sosial.




·           Fungsi-fungsi Norma Sosial:
1.         Pedoman hidup yang berlaku bagi semua anggota masyarakat pada wilayah tertentu.
2.         Memberikan stabilitas dan keteraturan dalam kehidupan bermasyarakat.
3.         Mengikat warga masyarakat karena norma disertai dengan sanksi dan aturan yang. tega sebagi pelanggarnya.
4.         Sebagai aturan yang digunakan untuk membatasi tingkah laku manusia.
5.         Mengatur hubungan antara manusia dengan masyarakat.




DAFTAR PUSTAKA


Soekanto, Soerjono. 2012. “Sosiologi Suatu Pengantar”. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
http://www.kedipmata.com. “Norma Sosial”. Diakses pada 11 Februari 2013.
http://infosos.wordpress.com. “Norma dan Interaksi Sosial”. Diakses pada 11 Februari 2013.

http://sosiologipendidikan.blogspot.com. “Nilai dan Norma Sosial”. Diakses pada 11 Februari 2013.