Thursday, 31 October 2013

pengalamanku, menyatakan cinta pada seseorang...

http://www.youtube.com/watch?v=NVr4DRiVatg

Wednesday, 30 October 2013

Kutipan dan Penulisan Daftar Pustaka

Karya tulis ilmiah mengharuskan penulisnya menyajikan serta mendiskusikan pendapat maupun ide-ide karya orang lain di dalam karyanya. Tata cara kutip-mengutip dan penulisan daftarpustaka ini berbeda pada masing-masing disiplin keilmuwan. Dalam Ilmu Sosial khususnya Sosiologi, konvesi tata cara kutipan dan penulisan daftar pustaka mengikuti model Harvard atau mudahnya kutipan ‘nama dan tahun’.
Kutipan dan Penulisan Daftar Pustaka memiliki beberapa nilai penting dalam dunia akademik, meliputi:
·         Untuk menggambarkan pengetahuan sipenulis tentang bidang kajiannya.
·         Untuk menggambarkan ke dalaman dan keluasan pengetahuan di penulis tentang bidang kajiannya khususnya pendapat-pendapat pendukung maupun penentang.
·         Untuk memberikan bukti bahwa penulis melakukan kajian ilmiah yang serius.
·         Untuk memberikan pengakuan kepada ide-ide orisinil pengarangnya.
·         Agar pembaca atau penguji bisa menemukan karya-karya ilmiah yang rujuk oleh penulis, baik dengan tujuan untuk melakukan verifikasi maupun mengembangkan minat kajian tentang bidang tersebut.

Dalam mengutipkarya orang lain, terdapat 3 (tiga) utama yang harus dipahami dengan baik oleh setiap peneliti, yaitu:
1)    KutipanLangsung
Dipahamisebagaimenggunakanpendapat orang laindengankalimatnyasecarautuhdanlangsung. Pendapat yang dikutipbiasanyasangatpenting, memilikinilaiilmiahtinggi, dansangatsulitmenjelaskandengankalimat yang berbeda yang punyakemungkinanmemberikanarti yang lain/salah.
2)    Parafrase
Dipahamisebagaimenjelaskanpendapat orang laindengankalimatkitasendiri. Parafrasebukansekedarmengganti kata-kata ataumerubahstrukturkalimatnamunlebihdariitu.Parafrase yang baikmenuntutpemahaman yang mendalamtentangsebuahpendapat/kalimat; dilanjutkandenganmenjelaskannyadalamkalimat yang berbedaberdasarkanpemahamankitasendiri.
3)    Menyimpulkan
Dipahamisebagairadamiripdengan paraphrase, namunmenyimpulkanmemilikinilailebih.Menyimpulkanberartimemberikangambaran yang singkatnamunmenyeluruhdarisebuahpendapat.

Sebelumdijelaskanlebihjauhtentangtatacarakutipandanpenulisandaftarpustaka model Harvard ini, perludipahamibeberapapengertianmendasarberikut:
·         Kutipan
Merupakansebuahcarauntukmengakuikarya orang lain dalamtulisankita. Karya-karya orang laininibiasanyadigunakanuntukmenjelaskanpendapatkita, memberikanpenjelasanmaupuncontohpendukungdan/ataumenampilkanpendapat alternative yang berbeda. Prinsiputamanya, adakejelasanantaramanapendapat yang merupakan ide orisinilsipenulisdanmana yang dipinjamdari orang lain.
·         DaftarPustaka
Merupakansebuahdaftar yang lengkap yang berisiseluruhsumberpustaka, data atauinformasi yang dirujukataudigunakandalamsebuahkaryatulis, dandisusunberdasarkansusunan alphabet namabelakangsipengarang.



Format Kutipan model Harvard:
Kutipaniniseringdisebut ‘kutipandalamteks’ ataucatatanperut, yang hanyamemberikanpenandasederhana ‘namapengarangdantahun’ untukmenunjukkaninformasisumberpustaka yang dirujukdalamsebuahkaryatulisilmiah.
Formatnyasepertiini:
(NamaPengarang, Tahun)
Contoh: (Hendrastomo, 2008)
Apabilakutipanmeliputikutipanlangsung (kata/kalimat), perluditambahkanhalamannya.
(NamaPengarang, Tahun: Halaman)
Contoh: (Hendrastomo, 2008: 2012)

Catatanpenting:
o    NamaPengarangadalahnamakeluarganyaataunamabelakangnyaapabilapengarangtidakmemilikinamakeluarga.
o    Tidakperluditulis initial ataunamadepannya.
o    Halamanharusselaluditampilkanapabilamengutiplangsungsecarapenuh kata/kalimat.
o    Polapenulisanharusselalukonsisten/selingkung; khususnyatandakoma, titikdua.
o    Kutipanpendekmeliputibeberapa kata hanyaperludiberikantandakutiptunggal, contoh:
Perkembanganteknologiinformasimerubahpolainteraksidankehidupansosialmanusia, seolah-olahhidup di ‘dunia yang datar’ (Freidman, 1998: 5) atau ‘dunia yang dilipat’ (Pilliang, 2004: 3).
o    Kutipanpanjang yang berisibeberapakalimatperluditulisdenganhuruflebihkecil, spasitunggaldan margin kanan-kirilebihmasuk, contoh:
Nietzsche menolaksikapdiamdalammenghadapinihilisme.Sikapdiambukanlahnetral.Dalamhalinimemangtidakadasikapnetral.Sikapdiamberartimembiarkandirididikteolehkeadaannihilistikataukrisisterumenerus (Sunardi, 1996: 31)
o    Mengutipkutipankedua, ataumerujukpendapatseorangpengarang (A) bukandarikaryanyalangsungnamundaripengaranglain (B) yang mengutipnya. Disiniperludijelaskanbahwaandamenbacabukusipengarang (B) meskimengutippendapat di pengarang (A). Contoh:
Michel Foucault (1961) memberikangambaran yang sangatmenariktentangkebijakanmenguruskegilaandalammasyarakateropaabadpertengahan, dimanapolitikkegilaansangateratkaitannyadenganproyekmodernitasbarathinggamasasekarang (dikutipdariSunardi, 1996).



Format PenulisanDaftarPustaka
1.    Bukuolehsatuataulebihpengarang
NamaBelakangPengarang, Initial. (TahunTerbit). JudulBuku: Termasuksubjudulnya. Kota tempatterbit: Penerbit.
Contoh:
Sunardi, St. (1996). Nietzsche. Yogyakarta: PustakaPelajar.
Hidayat, K. &Nafis, M.H. (2003).Agama MasaDepan: PerspektifFilsafat Perennial. Jakarta: Gramedia.
Eko, S. et. al. (2013).MutiaraPerubahan: InovasidanEmansipasiDesadari Indonesia Timur. Yogyakarta: IRE Yogyakarta
2.    Buku yang disunting/edit olehsatuataulebihpengarang
NamaBelakangpengarang, Initial. (ed.atau eds.). (TahunTerbit). JudulBuku: Subjudul. Kota tempatterbit: Penerbit.
Contoh:
Wrong, D. (ed.). (2003). Max Weber: SebuahKhazanah. Yogyakarta: Ikon
Hadiz, V.R. &Dhakidae, D. (eds.). IlmuSosialdanKekuasaan di Indonesia. Jakarta, Singapore: Equinox.
3.    Bab dariSuntinganBuku
NamaBelakangpengarang, Initial. (TahunTerbit). Judulbab: sub-judulnya. Dalam: NamaBelakang Editor, Initial. (ed. atau eds.) Judulbuku: sub-judulbuku. Kota tempatTerbit: Penerbit, halaman.
Contoh:
Heryanto, A. (2006) KiblatdanBebanIdeologisIlmuSosial Indonesia.DalamHadiz, V.R. &Dhakidae, D. (eds.). IlmuSosialdanKekuasaan di Indonesia. Jakarta, Singapore: Equinox, 63-98.
4.    ArtikeldariJurnalIlmiah
NamaBelakangPengarang, Initial. (TahunTerbit). JudulArtikel: Sub-judul. NamaJurnalIlmiah.Volume(Edisi): Halaman.
Contoh:
Irfani, A.I. et. al. (2013).ToleransiantaraPenganutNahdatulUlama, Muhammadiyah, dan Kristen Jawa di Batang.JurnalKomunitas. 5(1): 1-13.
5.    Laporanpenelitian, Kebijakanpemerintah yang diterbitkan
NamaBelakangPengarang, Initial. (TahunTerbit). JudulLaporan: Sub-judul. Kota tempatTerbit: Penerbit.
Atau
NamaLembaga/Organisasi. (TahunTerbit). JudulLaporan: sub-judul. Kota tempatTebit: Penerbit.
Contoh:
Marianti, R. (2009). MencariJalanKeluardariKemiskinan di JawaTimur, Maluku Utara, dan Timor Barat. Jakarta: LembagaPenelitian SMERU.
PP Muhammadiyah. (2010). ProfilMuhammadiyahSatu Abad. Yogyakarta: LembagaPenerbitandanInformasi PP Muhammadiyah.
6.    Skripsi, TesisdanDisertasi yang tidakditerbitkan
NamaBelakangPengarang, Initial. (TahunTerbit). JudulSkripsi/Tesis/Disertasi: Sub-judul. Strata studi.Tidakditerbitkan.Universitaspemberigelar.
Contoh:
Wardana, A. (2003) Menjadi Kader Muhammadiyah: Studitentang Alumnus Madrasah MualliminMuhammadiyah Yogyakarta. Skripsi S1. TidakDiterbitkan. UniversitasGadjahMada.
7.    ArtikeldarimajalahatauKoran
NamaBelakangPengarang, Initial. (TahunTerbit). JudulArtikel. Nama Koran/Majalah.Tanggal/BulanTerbit.Alamatlaman Internet (apabiladari Internet).
Contoh:
Wardana, A. (2012). The Future of Islamic Intellectualism in Indonesia.The Jakarta Post.11 May. Tersedia di: http://www.thejakartapost.com/news/2012/05/11/the-future-islamic-intellectualism-indonesia.html. Diaksespada 2 Oktober 2013.
8.    Laman/Situs Internet
NamaBelakangPengarang, Initial. (TahunPenulisanataupembaharuanterakhir).JudulTulisanLaman.Tersedia di: (alamat URL). Diaksespada (tanggalbulantahun).
Atau
NamaLaman Internet.(TahunPenulisanatauPembaharuanTerakhir).Tersedia di (alamat URL).Diaksespada (tanggalbulantahun).
Contoh:

Aidit, D.N. (1964/2013). PolitikLuarNegeridanRevolusi Indonesia.Tersedia di: http://www.marxists.org/indonesia/indones/1964-AiditPolitikLuarNegeri.htm. Diaksespada 2 Oktober 2013.

Sunday, 20 October 2013

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb
            Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Emile Durkheim I (Fakta Sosial)
            Makalah ini berisikan tentang karir intelektual Emile Durkheim, teori mengenai fakta sosial yang dikemukakan Emile Durkheim, serta implementasi dari teori tersebut.
            Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir.
Wasalamu’alaikum Wr.Wb
Yogyakarta, 13 September 2013

                                                                  Penyusun



BAB I
PENDAHULUAN
1.      LATAR BELAKANG MASALAH
            Manusia sebagai makhluk hidup yang memiliki akal, senantiasa berusaha mengetahui segala sesuatu yang ada di sekitarnya Pada mulanya, semua pengetahuan manusia yang mencakup segala usaha pemikiran mengenai manusia dan alam sekitarnya termasuk masyarakat menjadi satu dalam filsafat. Akan tetapi, sejalan dengan semakin kompleksnya pemikiran manusia, maka terjadilah spesialisasi. Filsafat alam berkembang menjadi berbagai cabang ilmu, seperti astronomi, fisika, kimia, biologi, dan geologi. sedang filsafat kejiwaan dan filsafat social berkembang menjadi psikologi dan sosiologi.
            Pada saat sosiologi masih dianggap sebagai ilmu yang bernaung di dalam filsafat dan disebut dengan nama filsafat sosial, materi yang dibahas tidak dapat dikatakan sebagai ilmu sosiologi seperti yang dikenal se-karang. Beberapa ilmuwan yang mengembangkan filsafat sosial diantaranya adalah Plato (429–347 SM) yang membahas unsur-unsur sosiologi tentang negara dan Aristoteles (384-322 SM) yang membahas unsur-unsur sosiologi dalam hubungannya dengan etika sosial, yakni bagaimana seharusnya tingkah laku manusia dalam berhubungan dengan sesama manusia ataupun dalam kehidupan sosialnya.
            Baru setelah Auguste Comte (1798-1857) menciptakan istilah sosiologi, pada tahun 1839 terhadap keseluruhan pengetahuan manusia mengenai kehidupan bermasyarakat, maka lahirlah sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan. Inilah yang disebut dengan tahap pemikiran awal sosiologi. Comte berpendapat bahwa tingkah laku sosial dan kejadian-kejadian di masyarakat dapat diamati dan diukur secara ilmiah. Comte dianggap sebagai ‘Bapak Sosiologi’ yang memulai kajian sosial dengan metode ilmiah.
            Sosiologi pada zaman Comte dan Herbert Spencer masih dipengaruhi oleh aliran filsafat dan psikologi. Baru ketika Emile Durkheim untuk pertama kalinya menggunakan metode riset ilmiah dalam mengkaji informasi demografi dari berbagai negara, dan mempelajari hubungan antara angka bunuh diri yang ada di negara-negara itu dengan faktor agama dan status perkawinan, maka sosiologi benar-benar lepas dari pengaruh filsafat.
            Hal itulah yang menjadi latar belakang makalah ini dibuat. Malakah ini akan menggambarkan teori Durkheim mengenai fakta sosial yang menjadikan Sosiologi sebagai disiplin ilmu yang terlepas dari filsafat dan psikologi.
2.      RUMUSAN MASALAH
A.    Bagaimana karir intelektual seorang Emile Durkheim?
B.     Apa isi teori dari Emile Durkheim mengenai fakta sosial?
C.     Bagaimana implementasi teori Emile Durkheim mengenai fakta sosial?
3.      TUJUAN
A.    Untuk mengetahui karir intelektual seorang Emile Durkheim
B.     Untuk mengetahui isi teori dari Emile Durkheim mengenai fakta sosial
C.     Untuk mengetahui implementasi teori Emile Durkheim mengenai fakta sosial



BAB II
PEMBAHASAN
1.      KARIR INTELEKTUAL EMILE DURKHEIM
      Sosiolog besar ini dilahirkan di Epinal suatu perkampungan kecil orang Yahudi di Bagian timur Prancis yang agak terpencil dari masyarakat luas pada tanggal 15 April 1858, ia disebut sosiolog Prancis pertama yang menempuh jenjang ilmu sosioloogi paling akademis. Beliau memperbaiki metode berpikir sosiologis yang tak hanya berdasar pemikiran-pemikiran logika filosofis namun sosiologi menjadi suatu ilmu pengetahuan yang benar apabila mengangkat gejala sosial sebagai fakta-fakta yang dapat di observasi.
      Durkheim mengenal akar-akar sosiologi dari pemikiran filsuf kuno seperti Plato dan Aristoteles, dan filsuf Perancis Montesquieu dan Condorcet, Durkheim memandang filsuf terdahulu belum melangkah jauh sebeab mereka belum mencoba menciptakan disiplin baru
       Minat Durkheim dalam fenomena sosial juga didorong oleh politik. Kekalahan Prancis dalam Perang Prancis-Rusia telah memberikan pukulan terhadap pemerintahan republikan yang sekular. Banyak orang menganggap pendekatan Katolik, dan sangat nasionalistik sebagai jalan satu-satunya untuk menghidupkan kembali kekuasaan Prancis yang memudar di daratan Eropa. Durkheim, seorang Yahudi dan sosialis, berada dalam posisi minoritas secara politik, suatu situasi yang membakarnya secara politik. Peristiwa Dreyfus pada 1894 hanya memperkuat sikapnya sebagai seorang aktivis.
      Seseorang yang berpandangan seperti Durkheim tidak mungkin memperoleh pengangkatan akademik yang penting di Paris, dan karena itu setelah belajar sosiologi selama setahun di Jerman, ia pergi ke Bordeaux pada 1887, yang saat itu baru saja membuka pusat pendidikan guru yang pertama di Prancis. Di sana ia mengajar pedagogi dan ilmu-ilmu sosial (suatu posisi baru di Prancis). Dari posisi ini Durkheim memperbarui sistem sekolah Prancis dan memperkenalkan studi ilmu-ilmu sosial dalam kurikulumnya. Kembali, kecenderungannya untuk mereduksi moralitas dan agama ke dalam fakta sosial semata-mata membuat ia banyak dikritik.
      Minat Durkheim pada sosialisme dijadikan bukti bahwa ia bukan seorang konservatif namun sosialisme yang berbeda dengan minat marx dan pengikutnya. Durhkeim menyebut Marxisme sebagai serangkaian “hipotesis yang dapat diperdebatkan” dan ketinggalan zaman. Bagi Durkheim sosialisme sangat berbeda dengan pada umumnya karena baginya sosialisme tak lain adalah suatu paham dan keadaan yang merepresentasikan sistem tempat dimana prinsip moral yang diungkap oleh sosiologi ilmiah harus diberlakukan.
      Empat buah buku ditulis durkheim untuk mengukuhkan dirinya sebagai sosiolog besar, buku pertama ialah disertasi doktornya dari Unversitas Sorbone berjudul One the Division of Social Labor yang diterbitkan tahun 1893, Buku kedua berjudul The Rules of Sociological Method terbit tahun 1895, buku ketiga berjudul Suicide terbit tahun 1897, dan buku keempat berjudul The Elementary forms of Religious life terbit tahun 1912.
      Pemikiran Durkeim juga berpengaruh pada bidang selain sosiologi seperti antropologi, sejarah, linguistik, dan ironisnya lewat lingkaran ini dia menyerang disiplin yang jadi musuh bebuyutan psikologi.
      Durhkeim wafat pada 15 November 1917. Ia disegani dikalangan intelektual Prancis, namun pemikirannya itu baru berpengaruh signifikan dalam sosiologi di Amerika setelah Talcott Parson menerbitkan buku berjudul The Structure of Social Action.

2.      TEORI SOSIOLOGI EMILE DURKHEIM TENTANG FAKTA SOSIAL
A.    Fakta sosial
                        Untuk memisahkan sosiologi dari filsafat dan memberinya kejelasan serta identitas tersendiri, Durkheim (1895/1982) menyatakan bahwa pokok bahasan sosiologi haruslah berupa studi atas fakta sosial (lihat Gane, 1988; Gilbert,1994; dan edisi spesial sociological perspectives 1995). Secara singkat, fakta sosial terdiri dari struktur sosial, norma budaya, dan nilai yang berada di luar dan memaksa aktor.
                        Hal yang penting dalam pemisahan sosiologi dari filsafat adalah ide bahwa fakta sosial dianggap sebagai “sesuatu” (S. Jones, 1996) dan dipelajari secara empiris. Artinya, bahwa fakta sosial mesti dipelajari dengan perolehan data dari luar pikiran kita melalui observasi dan eksperimen.
                        Fakta sosial adalah seluruh cara bertindak, baku maupun tidak, yang dapat berlaku pada diri individu sebagai sebuah paksaan eksternal; atau bisa juga dikatakan bahwa fakta sosial adalah seluruh cara bertindak yang umum dipakai suatu masyarakat, dan pada saat yang sama keberadaannya terlepas dari manifestasi-manifestasi individual. (Durkheim, 1895/111982: 13).
                        Hal itu menunjukkan bahwa Durkheim memberikan definisi agar sosiologi terpisah dari ilmu filsafat dan psikologi.
                        Durkheim berpendapat bahwa fakta sosial tidak bisa direduksi kepada individu, namun mesti di pelajari sebagai realitas mereka. Durkheim menyebut fakta sosial dengan  istilah latin sui generis, yang berarti “unik”. Durkheim menggunakan istilah ini untuk menjelaskan bahwa fakta sosial memiliki karakter unik yang tidak bisa direduksi menjadi sebatas kesadaran individual. Jika fakta sosial dianggap bisa dijelaskan dengan merujuk pada individu, maka sosiologi akan tereduksi menjadi psikologi.
                        Durkheim sendiri memberikan beberapa contoh tentang fakta sosial , termasuk aturan legal, beban moral, dan kesepakatan sosial. Dia juga memasukan bahasa sebagai fakta sosial, dan menjadikannya contoh yang paling mudah dipahami. Pertama karenakan bahasa adalah “sesuatu” yang mesti dipelajari secara empiris. Kedua bahasa adalah sesuatu yang berada di luar individu. Meskipun individu menggunakan bahasa, namun bahasa tidak dapat didefinisikan atau diciptakan oleh individu. Ketiga, bahasa memaksa individu. Bahasa dapat membuat sesuatu itu sulit dikatakan. Terakhir, perubahan dalam bahasa dapat dipelajari dengan fakta sosial lain dan tidak bisa hanya keinginan individu saja.
                        Sebagian sosiologo berpendapat bahwa Durhkeim terlalu mengambil posisi yang ekstrem dalam hal ini. sebab ia terlalu membatasi sosiologi hanya pada fakta sosial saja. Padahal ada banyak cabang-cabang dalam sosiologi.
B.     Fakta Sosial Material dan Nonmaterial
                        Durkheim membedakan dua tipe ranah fakta sosial material dan non material. Fakta sosial material seperti gaya arsitektur bentuk teknologi, dan hukum dan perundang-undangan, relatif mudah dipahami karena keduanya bisa diamati secara langsung. Lebih penting lagi, fakta sosial material tersebut sering kali mengekspresikan kekuatan moral yang lebih besar dan kuat yang sama-sama berrada diluar individu dan memaksa mereka. Kekuatan moral inilah yang disebut dengan fakta sosial nin material.
                        Studi Durkheim yang paling penting dan inti dari sosiologi terletak pada studi fakta sosial nonmaterial. Durkheim mengungkapkan : “tidak semua kesadaran sosial mencapai ... eksternalisasi dan materialisasi” (1897/1951: 315). Apa yang saat ini disebut norma dan nilai, atau budaya oleh sosiolog secara umum (Alexander, 1988c) adalah contoh yang tepat untuk apa yang disebut Durkheim dengan fakta sosial nonmaterial. Durkheim mengakui bahwa fakta sosial nn material memiliki batasan tertentu, ia ada dalam individu. Akan tetapi dia yakin bahwa ketika orang memulai berinteraksi secara sempurna, maka interaksi itu akan mematuhi hukumnya sendiri (Durkheim, (1912) 1965: 471). Dalam karya yang sama durkheim menulis: pertama, bahwa “hal-hal yang bersifat sosial hanya bisa teraktualisasi melalui manusia; mereka adalah produk aktivitas manusia” dan kedua Masyarakat bukan hanya semata-mata kumpulan sejumlah individu.masyarakat akan hanya bisa dipahami dengan interaksi bukan individu. Interaksi nonmaterial juga memiliki tingkatan-tingkatan realitasnya sendiri. Inilah yang disebut “realisme relasional” (Alpert, 1939).
                        Durkheim melihat fakta sosial berada di sepanjang kontinum hal-hal yang material. Durkheim menyebut ini dengan fakta morfologis, dan semua itu termasuk hal yang paling penting dalam buku pertamanya, The Division of Labor.
C.     Jenis-jenis Fakta Sosial Nonmaterial 
a.       Moralitas.
           Persperktif durkheim mengenai moralitas: pertama, Durkheim yakin bahwa moralitas adalah fakta sosial, dengan kata lain, moralitas bisa dipelajari secara empiris, karena ia berada diluar individu, ia memaksa individu, dan bisa dijelaskan dengan fakta-fakta sosial lain. Kedua, Durkheim dianggap sebagai sosiolog moralitas karena studinya didorong oleh kepeduliannya pada kesehatan moral kesehatan moral masyarakat modern.
           Dalam pandangan Durkheim, orang selalu terancam kehilangan ikatan moral, dan hal ini dinamakan “patologi”. hal tersebut penting bagi Durkheim karena tanpa itu individu akan diperbudak oleh nafsu yang tidak pernah puas. Seseorang akan didorong oleh nafsu mereka ke dalam kegilaan untuk mencari kepuasan namun setiap kepuasan akan menuntut lebih dan lebih. Jika masyarakat tidak membatasi kita maka kita akan menjadi budak kesenagan yang selalu meminta lebih. Sehingga Durkheim memegang pandangan bahwa individu membutuhkan moralitas dan kontrol dari luar untuk bebas. Pandangan hasrat yang tidak pernah puas ini ada pada setiap manusia adalah inti dari sosiologi Durkheim.
b.      Kesadaran kolektif.  
           Durkheim mencoba mewujudkan perhatiannya pada moralitas dengan berbagai macam cara dan konsep. Usaha awalnya untuk menaangani persoalan ini adalah dengan mengembangkan ide tentang kesadaran kolektif. Durkheim mendefinisikan kesadaran kolektif sebagai berikut: seluruh kepercayaan dan perasaan bersama orang kebanyakan dalam sebuah masyarakat akan membentuk suatu sistem yang tetap yang punya kehidupan sendiri, kita boleh menyebutnya dengan kesadaran kolektif atau kesadaran umum. Dengan demikian, dia tidak sama dengan kesadaran partikular, kendati hanya bisa disadari lewat kesadaran-kesadaran partikular.
           Dari hal itu jelas bahwa Durkheim berpendapat kesadaran kolektif terdapat dalam kehidupan sebuah masyarakat ketika dia menyebut “keseluruhan” kepercayaan dan sentimen bersama. Hal yang lain bahwa kesadaran kolektif sebagai sesuatu yang terlepas dari dan mampu menciptakan fakta sosial. Hal terakhir dari pendapatnya bahwa kesadaran kolektif baru bisa “terwujud’ melalui kesadaran-kesadaran indivisual.
           Duekheim menggunakan konsep yang sangat terbuka dan tidak tetap untuk menyatakan bahwa masyarakat “primitif” memiliki kesadaran kolektif yang kuat yaitu pengertian, norma, dan kepercayaan bersama lebih daripada masyarakat modern.
c.       Representasi Kolektif
           Kesadaran kolektif tak dapat dipelajari secara langsung karena sesuatu yang luas dan gagasan yang tidak memiliki bentuk yang tetap. Sehingga perlu didekati dengan relasi fakta sosial material. Contoh dari representasi kolektif ialah simbol agama, mitos, dan legenda populer. Semua yang tersebut itu adalah cara-cara dimana masyarakat merefleksikan dirinya.
           Representasi kolektif tidak dapat direduksi kepada individu-individu karena ia muncul dari interaksi sosial dan hanya dapat dipelajari secara langsung karena cenderung berhubungan dengan simbol material seperti isyarat, ikon, dan gambar atau praktek seperti ritual.
Contoh dari representasi ialah mengenai perubahan yang dialami Abraham Lincoln dalam menanggapi fakta-fakta sosial lain. Ia mengalami kejayaan yang memuncak dan ditahun lain ia memperlihatkan kemerosotan martabatnya.
d.      Arus sosial
Sebagian besar fakta sosial yang dirujuk emile Drukheim sering diasosiasikan dengan organisasi sosial. Namun dia menjelaskan bahwa fakta sosial tidak menghadirkan diri dalam bentuk yang jelas”. Durkheim menyebutnya arus sosial. Dia mencontohkan dengan “luapan semangat, amarah, dan rasa kasihan”. Fakta-fakta sosial nonmaterial bahkan bisa memengaruhi institusi yang paling kuat sekalipun. Hal ini dicontohkan pada konser rock yang terjadi di Erropa timur. Konser rock merupakan tempat muncul dan berseminya standar buadaya, fashion. Dan gejala perilaku yang lepas kntrol partai. Dengan kata lain kepemimpinan politik takut pada konser rock karena berpotensi menekan perasaa  individu dari alienasi menjadi motivasi keterasingan sebagai fakta sosial.
e.       Pikiran kelompok
           Arus sosial dapat dilihat sebagai serangkaian makna yang disepakati dan dimiliki bersama oleh seluruh anggota kelompok. Karena itu arus sosial tidak bisa dijelaskan berdasarkan suatu pikiran individual. Arus sosial juga tidak bisa dijelaskan secara intersubjektif yaitu berdasarkan interaksi antar individu. Arus sosial hanya akan tampak pada level interaksi bukan individu.
           Kenyataannya ada kesamaan yang kuat antara teori fakta sosial  dari Durkheim dengan teori mutakhir tentang hubungan otak dengan pikiran individu. Keduanya sama-sama menggunakan gagasan bahwa sistem yang kompleks akan terus berubahdan menunjukkan ciri-ciri baru.
Durkheim juga memiliki pemahaman modern tentang fakta sosial nonmaterial yang mengandung norma, nilai, budaya, dan berbagai fenomena psikologis sosial bersama.

3.      IMPLEMENTASI TEORI EMILE DURKHEIM MENGENAI FAKTA SOSIAL
      Emile Durkheim mendefinisikan fakta sosial dalam teorinya ialah seluruh cara bertindak, baku maupun tidak, yang dapat berlaku pada diri individu sebagai sebuah paksaan ekternal; atau bisa dikatakan bahwa fakta sosial adalah cara bertindak yang umum dipakai suatu masyarakat, dan pada saat yang sama keberadaanya terlepas dari manifesti-manifesti individual. Sehingga fakta sosial yang berada dalam masyarakat saat ini yang sesuai dengan definisi Durkheim misalnya seorang yang berkendara tanpa menggunakan helm, SIM, dan STNK apabila diketahui oleh polisi maka akan dikenakan denda atau sanksi sesuai peraturan yang berlaku. Hal ini menandakan bahwa peraturan yang berlaku berada di luar individu, berlaku bagi setiap individu yang berarti universal di wilayah atau negara itu, serta memaksa individu tersebut untuk bertidak yang seharusnya.
      Fakta sosial material dicontohkan Durkheim seperti gaya arsitektur : rumah adat, istana, tempat ibadah , bentuk teknologi: gadget, obat-obatan, satelit, transportasi, hukum perundang-undangan: hukum adat, hukum dagang, hukum pidana perdata.
      Fakta sosial nonmaterial menjadi hal paling penting dalam teori Durkheim. Ia mengungkapkan: “tidak semua kesadaran sosial mencapai... eksternalisasi dan materialisasi”, norma, nilai dan budaya menjadi hal yang tepat atas pernyataan Durkheim. Durkheim mengakui bahwa fakta sosial non material memiliki batasan tertentu, ia ada dalam pikiran individu. Ia meyakini ketika sorang dalam interaksi yang sempurna maka itu akan mematuhi hukum-hukumnya sendiri. Hal ini dapat dicontohkan bahwa ketika kita berinteraksi dengan seseorang dalam forum diskusi atau dalam perkuliahan dengan dosen maka interkasi yang dilakukan antara kita dengan dosen menggunakan bahasa yang formal dan dengan suasana yang sopan. Berbeda dengan interaksi kita pada saat berdiskusi dengan teman atau seorang yang begitu dekat maka suasana akan lebih relax dengan penuh candaan dan bahasa yang sedikit ‘’nyleneh’’. Hal itu menunjukkan adanya penyesuaian kita pada hukum-hukum yang berlaku dalam sebuah interaksi yang sempurna.
      Jenis fakta nonmaterial yang dikemukakan Durkheim dalam studinya ialah:
a.       Moralitas
Perspektif Durkheim mengenai moralitas ada dua, moralitas   aaadalah fakta sosial dan bisa dipelajari secara empiris memaksa individu dan berada diluar. Benar adanya karena moralitas erat kaitannya dengan struktur sosial, misalnya untuk memahami moralitas UNY kita terlebih dahulu harus menelaah bagaimana UNY terbentuk atau awal mulanya, dimana keberadaan UNY dalam masyarakat, serta tanggung jawabnya atas kebaikan sosial.
b.      Kesadaran Kolektif
Durkheim mendefinisikan Kesadaran kolektif sebagai “seluruh kepercayaan dan perasaan bersama orang kebanyakan dalam sebuah masayakat   aaakan membentuk suatu sistem yang tetap yang punya kehidupan sendiri,....” hal ini dapat dicontohkan pada masyarakat kita yang memiliki kepercayaan dan perasaan bersama yaitu pernah dijajah oleh Belanda dan mengalami penderitaan. Kita pun menyadari bahwa kita adalah seorang warga indonesia, tak hanya itu dalam ruang yang lebih sempit ada yang menyadari dirinya orang Bali, orang hindu, orang Batak karena berbagai perasaan dan kepercayaan yang sama.
c.       Representasi kolektif
Dalam teorinya mengenai fakta sosial Durkheim menggunakan representasi kolektif secara langsung sebab selalu berhubungan dengan simbol-simbol seperti ikon, gambar, atau praktek ritual. Misalnya dalam masyarakat kita ialah banyak yang beberapa narasumber yang mengatakan bahwa partai demokrat terdapat dua matahari kembar. Namun setelah beberapa kasus menimpa partai ini dua matahari ini diilustrasikan oleh para demonstran sebagai seekor tikus dengan tulisan-tulisan keras. Dua matahari itu ialah Anas urbaningrum dan SBY. Hal ini menunjukkan adanya perubahan representasi masyarakat terhadap mereka.
d.      Arus Sosial
Durkheim menyebut fakta sosial yang satu ini tidak menghadirkan diri dalam bentuk yang jelas. Ia mencontohkan dengan luapan semangat, amarah, dan rasa kasihan yang terbentuk dari kempulan publik. Hal ini dicontohkan dengan kerumunan konser rock di Eropa Timur yang mempercepat kehancuran komunis di sana. Sebab mereka menganggap konser rock merupakan tempat berkembangnya standar budaya, fashion, dan perilaku yang lepas dari kontrol partai.

  

BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan
            Fakta sosial yang menjadi objek kajian dalam sosiologi yang dikemukakan Durkheim telah menuai keberhasilan yaitu memisahkan sosiologi sebagai ilmu filsafat sosial dan psikologi untuk pertama kalinya. Sehingga ketiga ilmu tersebut memang berbeda. Tak hanya itu ia membuat sosiologi sebagai disiplin ilmu dan merupakan cabang ilmu sosial yang berdiri sendiri.
            Fakta-fakta sosial yang dibedakan jenisnya yaitu fakta sosial nonmaterial dan material masih dapat diimplementasikan sampai sekarang serta masih relevan dan memang dapat dipelajari secara empiris.




DAFTAR PUSTAKA
Soekanto, Soerjono. 2012. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.
Ritzer, George, Douglas J Goodman. 2013. Teori Sosiologi. Yogyakarta:          Kreasi Wacana.
http://ambriomimpiku.blogspot.com/2012/01/emile-durkheim.html/ diakses       pada tanggal 13 September 2013
http://www.bangmu2.com/2012/05/sejarah-perkembangan-sosiologi.html/         diakses pada tanggal 13 Agustus 2013

                                                                                                                                        

Wednesday, 9 October 2013

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Yogyakarta adalah tempat obyek wisata yang tidak asing lagi dimata orang ataupun di berbagai manca Negara. Disitu banyak berbagai tempat-tempat obyek pariwisata yang sangat penting, bersejarah dan mempunyai keunikan tersendiri dengan ciri khasnya masing-masing. Tempat-tempat obyek pariwisata tersebut misalnya: Monumen Jogja Kembali (Monjali), Kraton Yogyakarta, Malioboro, Tamansari, dan lain sebagainya.  Untuk itu kami mencoba menjabarkan berbagai fenomena yang ada pada salah satu tujuan wisata di Yogyakarta, yaitu Kraton Yogyakarta.
Di kawasan Kraton Yogyakarta ada banyak fenomena yang bisa ditemui. Di sekitar Kraton dijumpai banyak pedagang makanan, pedagang souvenir, pedagang batik, tukang parkir, tukang becak, dan sebagainya. Mereka setiap harinya mencari pendapatan di sekitar Kraton Yogyakarta.  salah satunya masyarakat sekitar yang ramah-ramah. Baik pemandu wisata, pedagang, tukang parkir pun melayani pengunjung dengan ramah dan santun. Selain itu Kraton Yogyakarta juga mempunyai keunikan tersendiri yang berupa peninggalan budaya yang menarik untuk kita pelajari.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana deskripsi kawasan wisata Kraton Yogyakarta?
2.      Bagaimana sejarah dan perkembangan wisata Kraton Yogyakarta?
3.      Apa keunikan dari Kraton Yogyakarta?
4.      Apa pengaruh wisata Kraton Yogyakarta bagi masyarakat?

C.     Tujuan
Dengan dilakukannya observasi lapangan dan pembuatan laporan ini, diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kawasan wisata Kraton Yogyakarta, sejarah, perkembangan  kawasan wisata,  keunikan, dan pengaruh wisata Kraton Yogyakarta bagi masyaraka.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    DESKRIPSI WISATA KRATON YOGYAKARTA
Lokasi dan Fasilitas 
Kompleks Kraton Yogyakarta terletak di pusat kota Jogjakarta, tepatnya persis di sebelah selatan titik km 0 Kota Jogjakarta. Dari Tugu Jogjakarta, kita tinggal berjalan lurus ke selatan, melewati Jalan Malioboro hingga memasuki gerbang utara Keraton di Alun-Alun Utara Jogjakarta. Karena terletak di pusat kota Jogjakarta, fasilitas dan akomodasi di sekitar kompleks Kraton Yogyakarta sangatlah lengkap. Selain segala jenis hotel, dari mulai hotel berbintang hingga hotel melati, dan segala jenis restoran/tempat makan, dari mulai restoran mewah hingga angkringan (warung makan kaki lima khas Jogjakarta), kita juga bisa belanja dengan segala macam cinderamata, pakaian, kerajinan, dan makanan khas Jogjakarta di sepanjang Jalan Malioboro, di Pasar Beringharjo, maupun di toko-toko di sekitar kompleks keraton. Semuanya tidak terlalu jauh dari keraton dan bisa ditempuh dengan jalan kaki atau naik becak maupun andong. Begitu pula dengan sarana transportasi dan komunikasi, semuanya dapat kita peroleh dengan mudah. Kawasan wisata Kraton Yogyaakarta ini buka setiap hari Senin hingga Minggu.

Kraton Yogyakarta (Jogja) atau sering disebut dengan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat terletak di jantung provinsi Daerah Istimewa Yogjakarta. Karena tempatnya berada di tengah-tengah Jogja, dimana ketika di ambil garis lurus antara Gunung Merapi dan Laut Kidul, maka Keraton menjadi pusat dari keduanya. Keraton atau Kraton Jogja merupakan kerajaan terakhir dari semua kerajaan yang pernah berjaya di tanah jawa. Ketika kerajaan hindu-budha berakhir kemudian di teruskan dengan kerajaan islam pertama di Demak, lalu berdiri kerajaan yang lain seperti Mataram islam yang di dirikan oleh Sultan Agung lalu berjalan dan muncul Keraton Jogja yang didirikan oleh Sultan Hamengku Bowono I. Hingga sekarang, keraton Jogja masih menyimpan kebudayaan yang sangat mengagumkan.
Dalam perkembangannya, Keraton Jogja banyak mengalami masa pasang surut kepemimpinan dan terjadi perpecahan. Yang paling terkenal adalah perjanjian Giyanti pada tahun 1755, dimana kerajaan dibagi menjadi 2 (dua) yaitu wilayah timur yang sekarang menjadi Keraton Surakarta dan wilayah barat yang disebut dengan Keraton Yogjakarta. Namun, Keraton Jogja juga banyak menyimpan sejarah yang tak bisa dilupakan begitu saja oleh bangsa Indonesia, termasuk dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Selain itu, Keraton Jogja sangat kental dengan warisan budaya etnik jawa yang sangat menajubkan yang masih bisa di temukan di sekitar dan dalam keraton sendiri. Ketika ke Keraton Jogja, maka itulah gambaran sederhana tentang budaya dan keindahan tanah jawa. Semua hampir terwakilkan dalam satu tempat yang menarik dan sangat memukau. Di Keraton masih banyak menyimpan tentang berbagai kesenian, hasil budaya, ragam pakaian adat dan bentuk rumah ala jawa yang indah. Di Keraton Jogja juga mempertunjukkan bagaimana supelnya orang jawa dalam berkomunikasi dan bersapa dengan semua orang yang datang disana.
Istana Jogja, sebagai representasi dari budaya jawa bisa ditemukan ketika masuk ke dalam Keraton, seperti pergelaran tari-tari jawa tentang berbagai cerita (babad tanah jawa, epic ramayana) yang dipentaskan oleh penari yang handal dan mampu memukau menarik penonton seperti terbawa suasana sakral yang sangat menghipnotis. Di iringi suara gemelan yang mengalun indah bercampur dengan bait-bait jawa dilantunkan indah oleh pesinden dan warangono Keraton Jogja. Selain tari, juga disajikan pentas wayang orang yang sangat menarik untuk di lihat, wayang orang ini berbeda dengan kebanyakan karena gerakannya hampir mirip dengan gerakan ballet. Pementasan tari jawa tersebut dilakukan di tempat terbuka mirip dengan pendopo Keraton.
Melihat sudut Keraton yang lain seperti Kedhaton, dimana kedhaton ini merupakan tempat bertemunya Raja dengan semua pemangku Keraton. Dengan suasana bangunan joglo yang indah dengan beberapa ornamen jawa yang menghiasi di setiap tembok dan pilar, juga berbagai macam tanaman rindang menambah suasana sakral jawa lebih sejuk dan menarik. Pilar-pilar yang berjajar sedemikian rupa menambah gagah dan kuatnya Keraton Jogja waktu itu. Beberapa bangunan taman juga menghiasi setiap sudut komplek Kedhaton Keraton Jogja. Ada yang menarik dikomplek Kedhaton tersebut, ketika masuk pintu area Karaton maka akan selalu bertemu dengan para penjaga (pekerja khusus) Keraton atau yang biasa di sebut dengan Abdi Dalem. Abdi Dalem tersebut tidak boleh atau dilarang untuk mungkur (ina: membelakangi Kedhaton). Jadi sang Abdi Dalem akan selalu menghadap ke arah Kedhaton, bukan membelakangi kedhaton. Kedhaton merupakan simbol Raja, disana tempat Raja duduk dan begitulah salah satu cara untuk menghormati kepada Raja.
Didalam Keraton juga disajikan berbagai budaya jawa yang indah seperti batik yang merupakan warisan budaya jawa yang sudah diakui secara internasional. Beberapa lukisan, keris, foto raja-raja jawa, silsilah raja jawa, dan berbagai hasil budaya jawa. Ketika masuk di rumah batik, disana dilarang untuk memotret. Karena semua motif batik disana merupakan ciri Keraton Jogja yang merupakan simbol dari istana jawa yang hanya boleh dicetak dan dipakai di lingkungan istana saja. Beragam motif batik istana sangat menarik memang, desain yang khas dan berbeda dengan kebanyakan batik.
Beberapa alat gamelan juga ditampilkan di Istana Jogja, gamelan berasal dari kata gamel yang berarti memukul. Gamelan sendiri merupakan alat musik khas jawa dimana permainan musik ini dilakukan dengan mengunakan alat seperti kenong, kempul, kendhang, gong, suling, kecapi dan lain sebagainya. Gamelan sendiri dimainkan bersama penyanyi yang disebut dengan Sinden (perempuan) atau Warangono (lelaki) seperti yang di pentaskan ketika masuk ke komplek Istana Jogja dimuka. Ketika memasuki ruang lukisan, banyak dijumpai lukisan bersejarah seperti raja-raja jogja, istri dan anak-anak raja jogja, lukisan tentang kemerdekaan, dan berbagai macam pengambaran tentang keraton.

B.     SEJARAH DAN PERKEMBANGAN KAWASAN WISATA KRATON YOGYAKARTA
Sejarah 
Asal mula Kasultanan Jogjakarta diawali ketika pada tahun 1558 M Ki Ageng Pamanahan mendapatkan hadiah sebuah wilayah di Mataram dari Sultan Pajang karena jasanya telah mengalahkan Aryo Penangsang.  Pada tahun 1577, Ki Ageng Pemanahan yang tetap selalu setia pada Sultan Pajang sampai akhir hayatnya, membangun istananya di Kotagede. Penggantinya, Sutawijaya, anak Ki Ageng Pemanahan, berbeda dengan ayahandanya. Sutawijaya menolak tunduk pada Sultan Pajang dan ingin memiliki daerah kekuasaan sendiri bahkan menguasai Jawa.
Setelah memenangkan pertempuran dengan Kerajaan Pajang, pada tahun 1588, Mataram menjadi kerajaan dengan Sutawijaya sebagai Sultan yang bergelar Panembahan Senopati. Kerajaan Mataram mengalami perkembangan pesat pada masa kekuasaan Sultan generasi keempat, Sultan Agung Hanyokrokusumo. Setelah Sultan Agung wafat dan digantikan putranya, Amangkurat I, Kerajaan Mataram mengalami konflikinternal/konflik keluarga yang dimanfaatkan oleh VOC hingga berakhir dengan Perjanjian Giyanti pada bulan Februari 1755 yang membagi Kerajaan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Jogjakarta. Dalam perjanjian tersebut, dinyatakan Pangeran Mangkubumi menjadi sultan Kasultanan Jogjakarta dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwana I. Sejak tahun 1988 hingga sekarang, Kasultanan Jogjakarta dipimpin oleh Sultan Hamengku Buwana X.
Keraton Jogjakarta mulai didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I beberapa bulan pasca Perjanjian Giyanti. Lokasi keraton konon adalah bekas sebuah pesanggarahan yang bernama Garjitawati. Pesanggrahan ini digunakan untuk istirahat iring-iringan jenazah raja-raja Mataram yang akan dimakamkan di Imogiri. Versi lain menyebutkan lokasi keraton merupakan sebuah mata air, Umbul Pacethokan, yang ada di tengah hutan Beringan. Sebelum menempati Keraton Jogjakarta, Sultan Hamengku Buwono I berdiam di Pesanggrahan Ambar Ketawang yang sekarang termasuk wilayah Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman. Lokasi Keraton Jogjakarta berada di antara Sungai Code di sebelah timur dan Sungai Winongo di sebelah barat serta Panggung Krapyak di sebelah selatan dan Tugu Jogja di sebelah utara. Lokasi ini juga berada dalam satu garis imajiner Laut Selatan dan Gunung Merapi.

C.     KEUNIKAN KRATON YOGYAKARTA
Kata keraton berasal dari kata ka-ratu-an, yang berarti tempat tinggal ratu/raja. Secara fisik istana para Sultan Yogyakarta ini memiliki tujuh kompleks inti yaitu Siti Hinggil Ler (Balairung Utara), Kamandhungan Ler (Kamandhungan Utara), Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul (Kamandhungan Selatan), dan Siti Hinggil Kidul (Balairung Selatan). Secara garis besar wilayah keraton memanjang 5 km ke arah selatan hingga Panggung Krapyak dan 2 km ke utara berakhir di Tugu. Pada garis ini terdapat garis linier dualisme terbalik. Bisa dibaca secara simbolik filosofis bahwa dari Panggung Krapyak menuju ke Keraton (Kompleks Kedhaton) menunjukkan "sangkan", yaitu asal mula penciptaan manusia sampai manusia tersebut dewasa. Ini dapat dilihat dari kampung di sekitar Panggung Krapyak yang diberi nama kampung Mijen (berasal dari kata "wiji" yang berarti benih). Di sepanjang jalan D.I. Panjaitan ditanami pohon asam dan pohon tanjung yang melambangkan masa anak-anak menuju remaja. Dari Tugu menuju ke Keraton (Kompleks Kedhaton) menunjukkan "paran" tujuan akhir manusia yaitu menghadap penciptanya. Tujuh gerbang dari Gladhag sampai Donopratopo melambangkan tujuh langkah/gerbang menuju surga (seven steps to heaven). Sedangkan dari Keraton menuju Tugu juga diartikan sebagai jalan hidup yang penuh godaan. Pasar Beringharjo melambangkan godaan wanita, sedangkan godaan akan kekuasaan dilambangkan lewat Gedung Kepatihan. Keduanya terletak di sebelah kanan. Jalan lurus itu sendiri sebagai lambang manusia yang dekat dengan Pencipta (Sankan Paraning Dumadi). Secara sederhana, Tugu adalah perlambangan Lingga (laki-laki) dan Panggung Krapyak perlambangan Yoni (perempuan). Sedangkan Keraton sebagai jasmani yang berasal dari keduanya.
            Tugu dan Bangsal Manguntur Tangkil atau Bangsal Kencana (tempat singgasana raja), terletak dalam garis lurus. Hal ini mengandung arti, ketika Sultan duduk di singgasananya dan memandang ke arah Tugu, maka beliau akan selalu mengingat rakyatnya (manunggaling kawula gusti). Tatanan Keraton sama seperti Keraton Dinasti Mataram pada umumnya. Bangsal Kencana yang menjadi tempat raja memerintah –menyatu dengan Bangsal Prabayeksa sebagai tempat menyimpan senjata-senjata pusaka Keraton (di ruangan ini terdapat lampu minyak Kyai Wiji, yang selalu dijaga abdi dalem agar tidak padam)— berfungsi sebagai pusat. Bangsal tersebut dilingkupi oleh pelataran Kedhaton, sehingga untuk mencapai pusat, harus melewati halaman yang berlapis-lapis menyerupai rangkaian bewa (ombak) di atas lautan. Tatanan spasial Keraton ini sangat mirip dengan konstelasi gunung dan dataran Jambu Dwipa, yang dipandang sebagai benua pusatnya jagad raya.
Bangunan-bangunan Keraton Yogyakarta lebih terlihat bergaya arsitektur Jawa tradisional. Di beberapa bagian tertentu terlihat sentuhan dari budaya asing seperti Portugis, Belanda, bahkan Cina. Bangunan di tiap kompleks biasanya berkonstruksi Joglo atau turunan konstruksinya. Secara umum tiap kompleks utama terdiri dari halaman yang ditutupi dengan pasir dari pantai selatan, bangunan utama serta pendamping, dan kadang ditanami pohon tertentu. Kompleks satu dengan yang lain dipisahkan oleh tembok yang cukup tinggi dan dihubungkan dengan Regol yang biasanya bergaya Semar Tinandu. Daun pintu terbuat dari kayu jati yang tebal. Di belakang atau di muka setiap gerbang biasanya terdapat dinding penyekat yang disebut Renteng atau Baturono. Pada regol tertentu penyekat ini terdapat ornamen yang khas.
Keraton diapit dua alun-alun yaitu Alun-Alun Utara dan Alun-Alun Selatan. Masing-masing alun-alun berukuran kurang lebih 100×100 meter. Sedangkan secara keseluruhan Keraton Yogyakarta berdiri di atas tanah seluas 1,5 km persegi. Bangunan inti keraton dibentengi dengan tembok ganda setinggi 3,5 meter berbentuk bujur sangkar (1.000 x 1.000 meter). Sehingga untuk memasukinya harus melewati pintu gerbang lengkung yang disebut plengkung. Ada lima pintu gerbang plengkung (dua di antaranya masih masih bisa kita saksikan hingga kini) yaitu Plengkung Tarunasura atau Plengkung Wijilan di sebelah timur laut, Plengkung Jogosuro atau Plengkung Ngasem di sebelah barat daya, Plengkung Joyoboyo atau Plengkung Tamansari di sebelah barat, Plengkung Nirboyo atau Plengkung Gading di sebelah selatan, dan Plengkung Tambakboyo atau Plengkung Gondomanan di sebelah timur. Di dalam benteng, khususnya yang berada di sebelah selatan dilengkapi jalan kecil yang berfungsi untuk mobilisasi prajurit dan persenjataan. Sedangkan sebagai pertahanan, pada keempat sudut benteng dibuat bastion (tiga di antaranya masih bisa kita saksikan hingga kini) yang dilengkapi dengan lubang kecil yang berfungsi untuk mengintai musuh.
Di dalam bangunan benteng, selain ada bangunan keraton tempat tinggal Raja, di sekitarnya juga ada sejumlah kampung sebagai tempat bermukim penduduk, yang pada zaman dulu merupakan abdi dalem keraton, namun pada perkembangan berikutnya, hingga sekarang, orang yang tinggal di dalam benteng keraton tidak harus sebagai abdi dalem. Nama-nama kampung di dalam "njeron beteng" (wilayah dalam benteng) mempunyai sejarahnya sendiri dan masing-masing berbeda. Sebagai contoh gamelan, dahulu merupakan tempat tinggal para abdi dalem yang bekerja sebagai gamel (pemelihara kuda), siliran (pemelihara lampu/alat penerangan), nagan (niyagan/penabuh gamelan), matrigawen (penjaga keamanan lingkungan keraton), patehan (pembuat dan penyedia teh), kenekan (dari kata Bahasa Belanda knecht/pembantu, untuk menyebut para abdi dalem yang membantu kusir/sais kereta kuda), Langenastran (tempat tinggal kesatuan prajurit Langen Astra yang bertugas sebagai pengawal Sultan), Suryaputran (tempat tinggal Pangeran Suryaputra, putra Sultan Hamengku Buwana VIII), Kauman (tempat tinggal para Kaum/pemimpit umat Islam), rotowijayan (tempat menyimpan dan memelihara kereta kuda milik keraton), tamansari (tempat tinggal para istri dan puteri raja yang belum menikah), dan seterusnya. 

D.    PENGARUH WISATA KRATON YOGYAKARTA BAGI MASYARAKAT
Dampak Positif:
1.      Wilayah Kraton tidak esklusif dan tidak terkesan tertutup dengan masyarakat, karena jadi tempat wisata.
Kraton yang dulunya hanya merupakan sebuah kerajaan, dan bukan merupakan tempat umum kini menjadi tempat tujuan pariwisata yang mempunyai ciri khas tersendiri.Bahkan banyak wisatawan dari mancanegara yang tertarik mengunjungi Kraton Yonyakarta.
2.      Masyarakat semakin cinta terhadap peninggalan budaya.
Dengan mengunjungi Kraton Yogyakarta, maka kita akan lebih mengenal dan mengetahui berbagai peninggalan-peninggalan bersejarah yang patut kita lestarikan.
3.      Menghidupkan sendi-sendi ekonomi di masyarakat sekitar.
Dengan adanya wisata Kraton Yogyakarta, banyak masyarakat yang mencari nafkah di sekitar kawasan kraton. Misalnya saja banyak pemandu wisata, pedagang makanan, pedagang souvenir, pedagang batik, tukang parkir, tukang becak, dan sebagainya.
4.      Menambah devisa negara dan pendapatan asli daerah.
Dampak Negatif:
1.      Muncul banyaknya pengemis yang ada di sekitar kawasan wisata.
2.      Ketika pengendalian dan pengawasan kurang, maka lingkungan menjadi semrawut, kotor, karena pengelolaan daerah wisata kurang baik.

Teori Fungsionalisme- Strukturalisme
Teori struktural-Fungsionalis termasuk dalam teori konsensus, yang dipelopori oleh Herbert Spencer, Emile Dukheim, Redclirre. Brown, Talcott Parson, dan Robert Marton. Teori konsensus memandang masyarakat sebagai suatu struktur yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan, yang dipelihara oleh suatu mekanisme keseimbangan.
Teori Fungsionalisme-Strukturalisme melakukan analisis dengan melihat masyarakat sebagai suatu sistem dari interaksi anatar manusia dan berbagai institusinya, dan segala sesuatunya disepakati secara konsensus, termasuk dalam hal nilai dan norma. Teori Fungsionalisme menekankan pada harmoni, konsistensi, dan keseimbangan dalam masyarakat.
Teori Fungsionalisme sebagai mana diungkapkan oleh Durkheim, menggunakan analogi bahwa masyarakat sama dengan organisme dimana setiap organ mempunyai fungsi tertentu yang menjamin keberlanjutan masyarakat secara harmonis. Kalau organisme harus dilihat secara keseluruhan, maka demikian pula halnya dengan masyarakat, tidak bisa dilihat secara parsial.
Beberapa asumsi pokok Teori Fungsionalisme-Strukturalisme adalah sebgai berikut:
1.      Masyarakat, sebagai sistem sosial, terdiri dari bagian-bagian (subsistem) yang interdipendent. Masing-masing bagian mempunyai fungsi-fungsi tertentu, yang berperan menjaga eksistensi dan berfungsinya sistem secara keseluruhan.
2.      Setiap elemen atau subsistem harus dikaji dalam hubungan dengan fungsi-fungsi dan peranannya terhadap sistem, serta dilihat apakah subsistem tersebut berfungsi atau tidak, dilihat dari akibat yang ditimbulkan oleh perilaku suatu subsistem. Jadi yang dilihat adalah fungsi real, bukan fungsi yang seharusnya.
3.      Kalau suatu sistem dapat mempertahankan batas-batasnya, maka sistem tersebut akan stabil.
4.      Berfungsinya masing-masing bagian (subsistem) dalam suatu sistem, akan menyebabkan sistem ada dalam keadaan equilibrium. Masyarakat yang equilibrium adalah masyarakat yang stabil, normal, karena semua faktor yang saling bertentangan telah melakukan keseimbangan (Talcott Parsons).
5.      Apabila terjadi disfungsi pada suatu bagian, maka akan terjadi kondisi abnormal, sehingga keadaan equilibrium terganggu (Merton, 1957). Tetapi berfungsi atau disfungsinya suatu elemen sosial pada akhirnya akan menghasilkan equilibrium baru, dalam proses self-regulation (Mennel, 1980).
6.      Masing-masing elemen sosial mempunyai fungsi manifest dan fungsi latent. Fungsi manifest adalah fungsi yang diharapkan, sedangkan fungsi laten adalah fungsi yang tidak dirancang, tidak diharapkan, atau tidak disadari (Merton, 1957).
Kaitan Teori
Kaitan antara teori Fungsionalime-Strukturalisme dengan Kraton Yogyakarta bisa terlihat dengan adanya struktur dalam kraton, yang mana masing-masing menjalankan fungsinya, sesuai dengan fungsi yang seharusnya dilaksanakan. Hal ini bisa dijelaskan sebagai berikut:
 Berdasarkan peraturan yang dibuat oleh raja Mataram yaitu  Amangkurat, yang kemudian dilengkapi oleh Paku Buwana X, terdapat lima tingkatan dalam hiererki kebangsawanan yaitu:
1.    Para putra raja, termasuk dalam golongan gusti.
2.    Para cucu raja, termasuk dalam golongan bendara
3.    Para cicit raja, termasuk dalam golongan abdi sentana
4.    Para canggah, termasuk golongan bendara sentana
5.    Para wareng raja, termasuk dalam golongan abdi kawula warga
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menunjukkan bahwa istana (keraton) menjadi pusat kehidupan tradisional Masyarakat Jawa. Sehingga dapat dikatakan Pusat dari segala kebudayaan Jawa yang terkenal adiluhung itulah di kota Yogyakarta dengan pusatnya  Kraton Yogyakarta. Di Kraton ini terdapat berbagai struktur sosial yang sangat jelas dengan Raja sebagai pimpinan struktur paling atas. Hal ini seperti disampaikan oleh  Abdurrachman (2000 : 27) yaitu bahwa di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat terdapat sebuah sistem yang terbentuk dari komponen-komponen sesuai dengan susunan-susunan kelas yang terdiri dari :

a.    Lapis pertama: Sultan.
Sultan bertugas sebagai kepala pemerintahan yang berkuasa di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
b.    Lapis kedua : Kerabat Keraton atau Sentana Keraton.
Kerabat Keraton merupakan keturunan dari Raja yang mempunyai keistimewaan dalam bidang-bidang tertentu.
c.    Lapis ketiga : Pekerja Administrasi Kasultanan maupun pemerintahan (Abdi Dalem atau Kaum Priyayi).
Abdi Dalem bertugas sebagai pegawai Keraton yang bekerja sesuai dengan jenjang kepangkatan atau gelar mereka.
d.    Lapis keempat : Golongan Wong Cilik.
Golongan wong cilik merupakan rakyat biasa yang patuh dan hormat terhadap Raja.

            Raja di pandang sangat sacral dan tidak setiap rakyat kecil (wong cilik) atau masyarakat umum dapat secara bebas bertemu dengan raja. Dilihat dari struktur tersebut Abdi dalem menempati lapis ketiga. Posisi tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan wong cilik. Bagi mereka menjadi abdi dalem adalah sebuah kebanggan karena mampu secara langsung dapat mengabdi kepada raja. Menurut mereka abdi dalem merupakan suatu pengabdian yang dituturkan sebagai  abdining kanjeng sinuwun, yaitu abdinya Sultan, dan dapat diartikan sebagai suatu kesetiaan kepada Sultan dan penguasa alam ini, setia terhadap yang menguasai keadaan alam ini dan setia dengan penguasa yang dapat diartikan sebagai Raja KeratonYogyakarta. Abdi dalem Kraton sudah ada dan melayani Sultan sejak berdirinya kerajaan ini. 
 Raja sebagai pemimpin tidak melihat abdi dalem sebagai hubungan antara pimpinan dan bawahan, melainkan abdi dalem sebagai seseorang yang mengabdi kepada budayanya.  Pesan ini dapat ditemukan dicorak pakaian Pranakan yang dikenakan oleh mereka.  188 tahun yang lalu ketika Sri Sultan Hamengkubuwana V(1820-1855) menciptakan pakaian untuk para abdi.  Warna biru tua yang melekat, dengan corak garis vertikal berjumlah tiga dan empat garis memiliki makna dalam.  Garis  berjumlah tiga dan empat memiliki arti Telupat yang bermakna Kewuluminangka Perpat yang artinya di rengkuh dan disaudarakan dalam satu kesatuan di kerajaan.  Sifat persaudaraan yang diharapkan adalah persaudaraan sesama abdi dalem dan persaudaraan dengan Sri Sultan raja mereka.  Abdi ingin merasa dekat dengan raja mereka, ini disimbolkan dengan pakaian pranakan yang berwarna biru tua yang artinya memiliki tekat yang kuat dan kesungguhan hati dalam pengabdian terhadap raja mereka. Melihat pakaian badi dalem tersebut merupakan symbol bagaimana mereka dengan keikhlasan mengabdi kepada raja.
Abdi dalem juga mempunyai tingkatan dan struktur organisasi dan pembagian tugas diantara mereka. Para abdi dalem bekerja dibawah koordinir Pengageng. Pengageng membawahi personalia dari setiap tepas (kantor) dan caos (piket). Struktur sistem tersebut menunjukkan bahwa permasalahan yang ada di Keraton cukup banyak dan rumit. Oleh karena itu dibuat koordinator yang masing-masing membawahi bagian kerja yang saling berkaitan. Masing-masing bagian itu memiliki carik (sekretaris) yang bertugas dalam :

• Mengelola pembagian gaji
• Mengelola absensi
• Mengelola jalannya bagian kerja
• Menerima dan melayani tamu
• Melaksanakan tugas dan kesekretariatan
Masing-masing Kawedanan Hageng, tepas dan koordinator dipimpin oleh kerabat Sultan. Sementara itu, pelaksana tugas masing-masing kawedanan dan tepas tersebut dilaksanakan oleh pegawai Keraton yaitu Abdi Dalem. Dalam struktur organisasi tersebut, masing-masing komponen memiliki tugas. Tugas- tugas itu dikerjakan dengan ikhlas dan penuh rasa tanggung jawab terhadap pemimpinnya yaitu Sultan. Abdi Dalem Keraton Yogyakarta jumlahnya mencapai ribuan orang bahkan lebih dengan berbagai tugas dan pengabdiannya masing-masing. Oleh karena itu Abdi Dalem Keraton Yogyakarta dibagi dalam beberapa jenis serta tugasnya (Afrianto, 2002 : 40), yaitu :

1.    Abdi Dalem Punokawan
Yaitu Abdi Dalem yang berasal dari rakyat biasa bukan Pegawai Pemda DIY. Mereka sengaja ingin mengabdikan diri di Keraton Yogyakarta dan Sri Sultan.
Abdi Dalem Punokawan dibagi menjadi dua, yaitu :
a.    Abdi Dalem Punokawan Sowan
b.    Abdi Dalem Punokawan Caos

2.    Abdi Dalem Keparak
Yaitu Abdi Dalem perempuan yang umumnya menunaikan kewajibannya di Keraton kilen (keputren). Abdi Dalem Keparak umumnya bertugas menyiapkan piranti seperti sesaji kalau ada acara-acara Upacara Keraton.
Abdi Dalem bekerja dengan prinsip sukarela, artinya mereka mau melakukan pekerjaan apa saja atas kemauan sendiri dengan gaji yang sangat kecil. Mereka bekerja di Keraton dengan prinsip rame ing gawe sepi ing pamrih untuk mendapat berkah dalem. Sehingga dengan kata lain mereka tidak mengukur pengabdian mereka dari aspek material. Secara lahiriah jika dilihat besar gaji Abdi Dalem dari Keraton tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari Abdi Dalem dan keluarga, tetapi mereka tetap mau bekerja di Keraton. Gaji yang diterima mereka berkisar Rp. 15.000,-Rp. 50.000.
Disana kita melihat abdi dalem yang bertugas sebagai guide. Abdi Dalem guide di Keraton berbeda dengan guide yang berada ditempat wisata pada umumnya, karena kebanyakan mereka memandu pengunjung dengan penuh ikhlas tanpa mengharap imbalan. Dan jika ada pengunjung yang memberi uang tip untuk Abdi Dalem guide maka mereka akan menerima apa adanya tanpa meminta tambahan lagi. Semua itu karena pengabdian yang tulus, walaupun mereka harus mendapat tambahan jam kerja. Pakaian yang digunakan oleh abdi adlem adalah pakaian beskap. Adapun pakaian yang digunakan ketika mengahdap raja dijelaskan oleh Margana yaitu :

1.    Pakaian abdi dalem punakawan yang mengahadap pada hari senin-kamis atau harian adalah baju beskap atau pranukan atau embagi. Pada saat pasowanan senin kamis baju pranakan sembagi dibuka.
2.    Abdi para bendoro pangeran atau lainya yang ikut mengahdap masuk berpakaian kulukan , baju sikepan kampuhan dan diijinkan memakai keris. Kampuhan diijinkan memakai keris apabila kulukan baju jawa diperbolehkan memakai keris . (margana 2004 : 97)
Ketika mengunjungi keraton abdi dalem memakai pakaian beskap dan blangkon khas Yogyakarta. Mereka tidak memakai sandal melainkan beralas kaki ketika memandu para wisatawan. Bagi mereka pasir di keraton itu suci.
Bahasa yang digunakan abdi dalem guide adalah bahasa Indonesia karena tidak semua pengunjung mengerti bahasa jawa. Sedangkan bahasa yang diucapka kepada Raja adalah bahasa Jawa yang tingkatanya sangat tinggi yakni bahasa jawa kromo alus.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
            Kraton Yogyakarta merupakan salah satu wisata yang menarik di Yogyakarta, karena mempunyai nilai sejarah, keunikan, dan berbagai peninggalan- peninggalan budaya.
            Dalam kaitannya dengan teori, Kraton Yogyakarta cenderung sesuai dengan teori Fungsionalisme-Strukturalisme. Hal ini bisa terlihat dengan adanya struktur dalam kraton, yang mana masing-masing menjalankan fungsinya sesuai dengan fungsi yang seharusnya dilaksanakan.
Saran
Kami selaku penyusun makalah ini menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan makalah ini kedepannya.         


DAFTAR PUSTAKA

I Gede Pitana, dan Putu G.Gytri. 2005. Sosiologi Pariwisata. Yogyakarta: Andi.