Thursday, 12 June 2014

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pada dasarnya setiap masyarakat yang ada di muka bumi ini dalam hidupnya dapat dipastikan akan mengalami apa yang dinamakan dengan perubahan-perubahan. Adanya perubahan-perubahan tersebut akan dapat diketahui bila kita melakukan suatu perbanding­an dengan menelaah suatu masyarakat pada masa tertentu yang kemudian kita bandingkan dengan keadaan masyarakat pada waktu yang lampau. Perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat,pada dasarnya merupakan suatu proses yang terus menerus, ini berarti bahwa setiap masyarakat pada kenyataannya akan mengalami perubahan-peru­bahan. Perubahan yang terjadi antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain tidak selalu sama. Hal ini dikarenakan adanya suatu masyarakat yang meng­alami perubahan yang lebih cepat (revolusi) bila dibandingkan dengan masyarakat lainnya. Di samping itu ada juga perubahan-perubahan yang prosesnya lambat (evolusi).
Makalah ini akan berfokus pada tahap perkembangan masyarakat yang ada di kota. Menurut Bintarto kota diartikan sebagai suatu sistem jaringan manusia yang ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan diwarnai dengan strata sosial ekonomi yang  heterogen dan coraknya yang materialistis ; atau dapat diartikan sebagai bentang budaya yang ditimbulkan oleh unsur – unsur alami dan non alami dengan gejala- gejala pemusatan penduduk yang cukup besar dengan corak kehidupan yang bersifat heterogen dan materialistis dibandingkan dengan daerah belakangnya.
Kota dapat terbentuk sejak terbentuknya kerumunan tempat tinggal manusia yang relative padat pada suatu kawasan tertentu dibanding kawasan disekitarnya. Idealnya kawasan yang disebut kota, penduduknya bukan bermatapencaharian yang berkaitan langsung dengan alam, seperti petani atau peternak, melainkan dibidang pemerintahan, perdagangan, kerajinan, pengolahan bahan mentah, industry dan jasa. Dari sifat awal yang sederhana hingga kompleks, menunjukkan kota terbentuk melalui suatu proses. Oleh karena hal itu kami akan membahas teori perkembangan kota, semoga dengan makalah yang kami buat dapat berguna bagi pembelajaran kita semua.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana perkembangan kota ditinjau dari Masa Pra modern, Modern, dan Era Globalisasi?
2.      Bagaimana Teori-teori perkembangan kota?
3.      Bagaimana pola-pola perkembangan kota?
C.    Tujuan
1.      Mengetahui perkembangan kota pada masa pramodern, modern, dan era globalisasi.
2.      Mengetahui berbagai teori perkembangan kota.
3.      Mengetahui pola-pola perkembangan kota.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Perkembangan Kota Ditinjau Dari Masa Pra Modern, Modern, Dan Era Globalisasi
1.      Pra Modern
Semula kota terbentuk secara sederhana, maka pengertian kota pada mulanya sangat sederhana. Sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan falsafah yang hidup dalam masyarakat, kota tersusun berdasarkan falsafah yang hidup dalam masyarakatnya.
Beberapa literature menyebutkan mula-mula kota didapati pada gua-gua, dilembah-lembah atau tempat-tempat terlindung (Bintarto,1984: 35). Disebutkan pula, beberapa jalur tepi sungai atau dikawasan tertentu yang letaknya strategis menjadi cikal bakal terbentuknya kota. Apabila mereka sekedar hidup mengelompok, sebenarnya kawasan yang ditempati belum tentu termasuk kategori kota, karena cirri utama kota adalah mata pencaharian penduduknya non agraris dan penduduknya mempunyai pekerjaan dan kebutuhan yang relative heterogen. Akan tetapi, kalau jumlah anggotanya relative banyak bisa saja disebut kota.
Sebaliknya bila jumlah anggotanya sedikit, tetapi sudah terdapat system pemerintahan yang sederhana sekalipun, dapat menjurus pada pengertian kota. Kombinasi dari beberapa unsure, seperti jumlah penduduk, ragam pekerjaan, ragam kebutuhan, fasilitas umumnya dan biasanya terdapat pimpinan yang kuat yang biasa bermain dengan politik (untuk membentuk system pemerintahan), akan mempengaruhi kawasan tersebut disebut kota atau tidak. tahap perkembangan daerah kota yang sudah diatur ketahap kehidupan kota (kota kecamatan ) Kota menempati suatu pusat daerah pertanian dengan adat istiadat bercorak pedesaan dan serba sederhana. Perkembangan kota yang masih ada pengaruh kehidupan agraris (kota kabupaten). Merupakan pusat kehidupan keagamaan dan pemerintahan
2.       Modernisasi
Ditandai dengan adanya masa Industrialisasi berlangsung mulai abad ke 17 setelah mulai banyak ditemukan temuan teknologi. Industrialisasi berlangsung secara gencar dan massal terjadi pada abad ke18 hingga sekarang. Namun pada abad ke 17 dan 18 diabdikan kepada segelintir kelompok yang absolut dan kaum borjuis. Teknologi tidak digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Akibatnya banyak ditemui rakyat-rakyat yang hidup menderita.
Pada tahap selanjutnya globalisasi menggejala keseluruh pelosok dunia, bahkan menjadi impian Negara – Negara berkembang. Pada masa industrialisasi penduduk kota meningkat pesat, menyebabkan kota berkembang secara tidak sehat, seperti masalah pemukiman kumuh, penyediaan perumahan layak huni, kriminalitas yang meningkat, masalah sumber air bersih, dan saluran air.
Ciri-ciri kota modern adalah penggunaan tekhnologi sebagai sarana untuk mempermudah mewujudkan kebutuhan manusia, masyarakat memberikan perhatian pada persoalan lingkungan, dengan mengenal system daur ulang dan sumber energi nonreguler sebagai alternative untuk memenuhi kebutuhan manusia. Ketiga, pemanfaatan tenaga listrik dan komputerisasi sebagai sumber vital untuk menggerakkan roda kegiatan manusia. Masyarakat kota bekerja dengan berbagai macam profesi. Kebutuhan akan profesi ini menjadi salah satu cirri masyarakat kota modern sehingga kebutuhan akan angkatan kerja yang professional meningkat. Dikarenakan kebutuhan akan tenaga kerja professional meningkat, maka kebutuhan akan pendidikan formal menjadi mutlak. Dunia pendidikan juga berkembang pesat. Kebutuhan yang pesat akan pendidikan formal ini merupakan cirri keempat.
Pada kota modern, lembaga perekonomian semakin beragam, modern dan computerized dengan lahirnya supermarket, sistem perbankan, asuransi, yang saling berkaitan. Dalam kota besar telah terjadi pertemuan orang dari berbagai bangsa untuk tujuan dagang dan saling bertukar kebudayaan. Terjadi perkawinan campuran antar bangsa maupun antar ras sehingga menyebabkan penduduk kota heterogen.
3.       Era Globalisasi
Disini modernisasi berkembang lebih lanjut. Tekhnologi dan ilmu pengetahuan didefinisikan kembali. Tekhnologi dan ilmu pengetahuan seperti komputerisasi dan elektronisasi berkembang lebih canggih, beragam, dan digunakan untuk kegiatan seolah di luar piker masyarakat awam sebelumnya, memiliki tingkat globalisasi yng tinggi meliputi interaksi dan kerjasama yang saling menguntungkan dan dapat terjadi dengan kota lain sehingga dunia ekonomi memliki struktur.
Pada pengertian kota global, kota sering ditandai dengan tingkat industri dan tekhnologi yang maju. Kemajuan ilu pengetahuan dan teknologi yang pesat didunia berakibat semakin pesat teknologi dan penemuan-penemuan dalam berbagai bidang dan skala yang diperkenalkan pada dunia, entah itu dibidang permesinan, medis, ilmu pengetahuan, mode, pelayanan, teknologi robot, arsitektur, dan lain-lain.
Secara ideal, suatu kota dikatakan mengglobal, apabila masyarakatnya memiliki kebiasaan untuk melakukan relasi dengan kota lain antarnegara. Biasanya pertama-tama kota besarlah yang menerima kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi sehingga masyarakat kota-kota besar biasanya mudah mengalami globalisasi. Dengan tekhnologi pulalah jarak antara kota yang satu dengan yang lain di antara dua Negara atau lebih semakin dekat. Dalam era global, potensi kota yang satu sering berdampak pada kota yang lain diantara dua Negara atau lebih. Sebagai contoh, orang dari kota yang tidak terlalu besar (tidak harus metropolitan) di Indonesia, sudah terbiasa berobat ke luar negeri, seperti Singapura, Amerika Serikat, Belanda, dsb. Potensi untuk menjadi kota global tidaklah harus berawal dari kota besar, tetapi dilihat potensinya bagi Negara lain. Misalnya ; Denpasar bisa menjadi kota global karena objek pariwisatanya.
Ciri kota Global, yaitu apabila sebagian masyarakatnya dalam memenuhi kebutuhannya tidak selalu berorientasi pada kota dinegerinya sendiri. Masyarakat semacam ini memiliki alternative berpikir untuk mendapatkan dan mencari hakikat kebutuhan hidupnya tak terbatas pada negerinya. Masyarakat juga harus bisa menerima kedatangan orang asing dengan segala potensi yang dimiliki oleh kota itu. Jadi, interaksi yang bersifat timbal balik dibutuhkan untuk mencapai status sebagai kota global.
Tahap perkembangan kota yang telah mencapai tingkat tertinggi diantaranya dengan dengan pemekaran atau perluasan kota. Merupakan peningkatan dari kota metropolis. Kekuasaan dan kekayaan semakin menonjol, kemiskinan juga semakin meluas serta banyaknya kriminalitas. Tahap perkembangan kota kehidupannya sudah sulit dikendalikan baik masalah lalulintas, pelayanan maupun kriminalitas. Kota besar ini dilanda ketimpangan – ketimpangan sosial yang berupa korupsi dan kemerosotan moral. Kaum miskin merupakan kekuatan yang tak dapat diabaikan.
B.       Teori-Teori Perkembangan Kota
1.      Teori Konsentris (The Consentric Theory)
Teori ini dikemukakan oleh E.W. Burgess (Yunus, 1999), atas dasar tudy kasusnya mengenai morfologi kota Chicago, menurutnya sesuat kota yang besar mempunyai kecenderungan berkembang ke arah luar di semua bagian-bagiannya. Masing-masing zona tumbuh sedikit demi sedikit ke arah luar. Oleh karena semua bagian-bagiannya berkembang ke segala arah, maka pola keruangan yang dihasilkan akan  berbentuk seperti lingkaran yang berlapis-lapis, dengan daerah pusat kegiatan sebagai intinya.
Secara berurutan, tata ruang kota yang ada pada suatu kota yang mengikuti suatu pola konsentris ini adalah sebagai berikut:
a)       Daerah Pusat atau Kawasan Pusat Bisnis (KPB). 
Daerah pusat kegiatan ini sering disebut sebagai pusat kota. Dalam daerah ini terdapat bangunan-bangunan utama untuk melakukan kegiatan baik sosial, ekonomi, poitik dan budaya. Contohnya : Daerah pertokoan, perkantoran, gedung kesenian, bank dan lainnya.
b)     Daerah Peralihan.
Daerah ini kebanyakan di huni oleh golongan penduduk kurang mampu dalam kehidupan sosial-ekonominya. Penduduk ini sebagian besar terdiri dari pendatang-pendatang yang tidak stabil (musiman), terutama ditinjau dari tempat tinggalnya. Di beberapa tempat pada daerah ini terdapat kegiatan industri ringan, sebagai perluasan dari KPB.
c)      Daerah Pabrik dan Perumahan Pekerja.
Daerah ini di huni oleh pekerja-pekerja pabrik yang ada di daerah ini. Kondisi perumahannya sedikit lebih buruk daripada daerah peralihan, hal ini disebabkan karena kebanyakan pekerja-pekerja yang tinggal di sini adalah dari golongan pekerja kelas rendah.
d)     Daerah Perumahan yang Lebih Baik Kondisinya.
Daerah ini dihuni oleh penduduk yang lebih stabil keadaannya dibanding dengan penduduk yang menghuni daerah yang disebut sebelumnya, baik ditinjau dari pemukimannya maupun dari perekonomiannya.
e)      Daerah Penglaju.
Daerah ini mempunyai tipe kehidupan yang dipengaruhi oleh pola hidup daerah pedesaan disekitarnya. Sebagian menunjukkan ciri-ciri kehidupan perkotaan dan sebagian yang lain menunjukkan ciri-ciri kehidupan pedesaan, Kebanyakan penduduknya mempunyai lapangan pekerjaan nonagraris dan merupakan pekerja-pekerja penglaju yang bekerja di dalam kota, sebagian penduduk yang lain adalah penduduk yang bekerja di bidang pertanian.
http://4.bp.blogspot.com/-eBLP4tQCjOA/UMLF1Q9AgTI/AAAAAAAAA68/HjubeL3YqyI/s400/g2.jpg
Gambar diatas menunjukan kota menurut teori konsentris.
Sumber: E.W. Burgess dalam Yunus (1999)
2.      TEORI SEKTOR
Teori sektor ini dikemukakan oleh Homer Hoyt (Yunus, 1991 & 1999), dinyatakan bahwa perkembangan-perkembangan baru yang terjadi di dalam suatu kota, berangsur-angsur menghasilkan kembali karakter yang dipunyai oleh sector-sektor yang sama terlebih dahulu. Alasan ini terutama didasarkan pada adanya kenyataan bahwa di dalam kota-kota yang besar terdapat variasi sewa tanah atau sewa rumah yang besar. Belum tentu sesuatu tempat yang mempunyai jarak yang sama terhadap KPB akan mempunyai nilai sewa tanah atau rumah yang sama, atau belum tentu semakin jauh letak atau tempat terhadap KPB akan mempunyai nilai sewa yang semakin rendah. Kadang-kadang daerah tertentu dan bahkan sering terjadi bahwa daerah-daerah tertentu yang letaknya lebih dekat dengan KPB mempunyai nilai sewa tanah atau rumah yang lebih rendah daripada daerah yang lebih jauh dari KPB. Keadaan ini sangat banyak dipengaruhi oleh factor transportasi, komunikasi dan segala aspek-aspek yang lainnya.
a)      Pertumbuhan Vertikat, yaitu daerah ini dihuni oleh struktur keluarga tunggal dan semakin lama akan didiami oleh struktur keluarga ganda. Hal ini karena ada factor pembatas, yaitu : fisik, social, ekonomi dan politik.
b)      Pertumbuhan Memampat, yaitu apabila wilayah suatu kota masih cukup tersedia ruang-ruang kosong untuk bangunan tempat tinggal dan bangunan lainnya.
c)      Pertumbuhan Mendatar ke Arah Luar (Centrifugal), yaitu biasanya terjadi karena adanya kekurangan ruang bagi tempat tinggal dan kegiatan lainnya. Pertumbuhannya bersifat datar centrifugal, karena perembetan pertumbuhannya akan kelihatan nyata pada sepanjang rute transportasi. Pertumbuhan datar centrifugal ini dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu :
1)      Pertumbuhan Datas Aksial, pertumbuhan kota yang memanjang ini terutama dipengaruhi oleh adanya jalur transportasi yang menghubungkan KPB dengan daerah-daerah yang berada diluarnya.
2)      Pertumbuhan Datar Tematis, pertumbuhan lateral suatu kota tipe ini tidak mengikuti arah jalur transportasi yang ada, tetapi lebih banyak dilatarbelakangi oleh keadaan khusus, sebagai cintih yaitu dengan didirikannya beberapa pusat pendidikan, sehingga akan menarik penduduk untuk bertempat tinggal di daerah sekitarnya. Di lingkungan pusat kegiatan yang beru ii akan timbul suatu suasana perkotaan yang secara administrative mungkin terpisah dari kota yang ada. Oleh karena jarak antara pusast kegiatan yang baru dengan daerah perkotaan yang lama biasanya tidak terlalu jauh, maka pertumbuhan selanjutnya adalah pada pusat yang lama dengan pusat yang baru akan bergabung menjadi satu.
3)      Pertumbuhan Datar Kolesen, perkembangan lateral ketiga ini terjadi karena adanya gabungan dari perkembangan tipe satu dan dua. Sehubungan dengan adanya perkembangan yang terus-menerus dan bersifat datar pada kota (pusat kegiatan), maka mengakibatkan terjadinya penggabungan pusat-pusat tersebut satu kesatuan kegiatan. (Yunus, 1991 & 1999)
3.      Teori Inti Ganda (Multiple Nucleus Theory)
Teori ini dikemukakan oleh Harris dan Ullman pada tahun 1945. Kedua geograf ini berpendapat, meskipun pola konsentris dan sektoral terdapat dalam wilayah kota, kenyataannya lebih kompleks dari apa yang dikemukakan dalam teori Burgess dan Hoyt.
http://3.bp.blogspot.com/-2qZ4kzgwURo/UMLGNXsKM9I/AAAAAAAAA7M/LNQEyLtZMW8/s400/g4.jpg
Gambar diatas struktur kota menurut teori inti ganda.
Sumber: Hadi Sabari Yunus (1999)
Pertumbuhan kota yang berawal dari suatu pusat menjadi bentuk yang kompleks. Bentuk yang kompleks ini disebabkan oleh munculnya nukleus-nukleus baru yang berfungsi sebagai kutub pertumbuhan. Nukleus-nukleus baru akan berkembang sesuai dengan penggunaan lahannya yang fungsional dan membentuk struktur kota yang memiliki sel-sel pertumbuhan.
Nukleus kota dapat berupa kampus perguruan tinggi, Bandar udara, kompleks industri, pelabuhan laut, dan terminal bus. Keuntungan ekonomi menjadi dasar pertimbangan dalam penggunaan lahan secara mengelompok sehingga berbentuk nukleus. Misalnya, kompleks industri mencari lokasi yang berdekatan dengan sarana transportasi. Perumahan baru mencari lokasi yang berdekatan dengan pusat perbelanjaan dan tempat pendidikan.
Harris dan Ullman berpendapat bahwa karakteristik persebaran penggunaan lahan ditentukan oleh faktor-faktor yang unik seperti situs kota dan sejarahnya yang khas, sehingga tidak ada urut-urutan yang teratur dari zona-zona kota seperti pada teori konsentris dan sektoral. Teori dari Burgess dan Hoyt dianggap hanya menunjukkan contoh-contoh dari kenampakan nyata suatu kota.
4.      Teori Konsektoral (Tipe Eropa)
Teori konsektoral tipe Eropa dikemukakan oleh Peter Mann pada tahun 1965 dengan mengambil lokasi penelitian di Inggris. Teori ini mencoba menggabungkan teori konsentris dan sektoral, namun penekanan konsentris lebih ditonjolkan.

http://1.bp.blogspot.com/-Ht5r22zaRr8/UMLGZGGA2kI/AAAAAAAAA7U/lbW6sHrzFZA/s400/g5.jpg
Gambar diatas menunjukan struktur kota menurut teori konsektoral.
Sumber: Hadi Sabari Yunus (1999)


5.      Teori Konsektoral (Tipe Amerika Latin)
Teori konsektoral tipe Amerika Latin dikemukakan oleh Ernest Griffin dan Larry Ford pada tahun 1980 berdasarkan penelitian di Amerika Latin. Teori ini dapat digambarkan sebagai berikut.

http://2.bp.blogspot.com/-gShih4sCeFI/UMLGmBTFfdI/AAAAAAAAA7c/GcbYxxlOkRA/s400/g6.jpg
Gambar diatas menunjukan struktur kota menurut teori konsektoral.
Sumber: Hadi Sabari Yunus (1999).

6.         Teori Poros
Teori poros dikemukakan oleh Babcock (1932), yang menekankan pada peranan transportasi dalam memengaruhi struktur keruangan kota. Teori poros ditunjukkan pada gambar sebagai berikut.
http://4.bp.blogspot.com/-WSvzu4uORow/UMLGvU_BMdI/AAAAAAAAA7k/9nQiRt6VHlY/s400/g7.jpg
Gambar diatas menunjukan struktur kota menurut teori poros.
Sumber: Hadi Sabari Yunus (1999)




7.       Teori Historis
Dalam teori historis, Alonso mendasarkan analisisnya pada kenyataan historis yang berkaitan dengan perubahan tempat tinggal penduduk di dalam kota. Teori historis dari Alonso dapat digambarkan sebagai berikut.
http://3.bp.blogspot.com/-PaTsOab-omM/UMLG5lpuynI/AAAAAAAAA7s/rcRIjQc3teY/s400/g8.jpg
Gambar diatas menunjukan struktur kota menurut teori historis.
Sumber: Hadi Sabari Yunus (1999)

Dari model gambar di depan menunjukkan bahwa dengan meningkatnya standar hidup masyarakat yang semula tinggal di dekat CBD disertai penurunan kualitas lingkungan, mendorong penduduk untuk pindah ke daerah pinggiran (a). Perbaikan daerah CBD menjadi menarik karena dekat dengan pusat segala fasilitas kota (b). Program perbaikan yang semula hanya difokuskan di zona 1 dan 2, melebar ke zona 3 yang menarik para pendatang baru khususnya dari zona 2 (c).

C.      Pola-Pola Perkembangan Kota
Sesuai dengan perkembangan penduduk perkotaan yang senantiasa mengalami peningkatan, maka  tuntutan akan kebutuhan kehidupan dalam aspek ekonomi, sosial, budaya, politik dan teknologi juga terus mengalami peningkatan,  yang semuanya itu mengakibatkan meningkatnya kebutuhan akan ruang perkotaan yang lebih besar. Oleh karena ketersediaan ruang di dalam kota tetap dan terbatas, maka meningkatnya kebutuhan ruang untuk tempat tinggal dan kedudukan fungsi-fungsi selalu akan mengambil ruang di daerah pinggiran kota (fringe area). Gejala penjalaran areal kota ini disebut sebagai “invasion” dan proses perembetan kenampakan fisik kota ke arah luar disebut sebagai “urban sprawl” (Northam dalam Yunus, 1994).
Secara garis besar menurut Northam dalam Yunus (1994) penjalaran fisik kota dibedakan menjadi tiga macam, yaitu sebagai berikut :
1)       Penjalaran fisik kota yang mempunyai sifat rata pada bagian luar, cenderung lambat dan menunjukkan morfologi kota yang kompak disebut sebagai perkembangan konsentris (concentric development).
Pola Perkembangan Kota - Model Penjalaran Fisik Kota Secara Konsentris (concentric development)
2)       Penjalaran fisik kota yang mengikuti pola jaringan jalan dan menunjukkan penjalaran yang tidak sama pada setiap bagian perkembangan kota disebut dengan perkembangan fisik memanjang/linier (ribbon/linear/axial development).
Pola Perkembangan Kota - Model Penjalaran Fisik Kota Secara Memanjang-Linier
3)      Penjalaran fisik kota yang tidak mengikuti pola tertentu disebut sebagai perkembangan yang meloncat (leap frog/checher board development).
Pola Perkembangan Kota - Model Penjalaran Fisik Kota Secara Meloncat
Jenis penjalaran fisik memanjang/linier yang dikemukakan oleh Northam sama dengan Teori Poros yang dikemukakan oleh Babcock dalam Yunus (1994), yaitu menjelaskan daerah di sepanjang jalur transportasi memiliki mobilitas yang tinggi, sehingga perkembangan fisiknya akan lebih pesat dibandingkan daerah-daerah di antara jalur transportasi.
Pola pemekaran atau ekspansi kota mengikuti jalur transportasi juga dikemukakan oleh Hoyt dalam Daldjoeni (1998), secara lengkap pola pemekaran atau ekspansi kota menurut Hoyt, antara lain, sebagai berikut :
1)      Perluasan mengikuti pertumbuhan sumbu atau dengan kata lain perluasannya akan mengikuti jalur jalan transportasi ke daerah-daerah perbatasan kota. Dengan demikian polanya akan berbentuk bintang atau “star shape”.
2)      Daerah-daerah hinterland di luar kota semakin lama semakin berkembang dan akhirnya menggabung pada kota yang lebih besar.
3)      Menggabungkan kota inti dengan kota-kota kecil yang berada di luar kota inti atau disebut dengan konurbasi. (Daldjoeni:1998)
Senada dengan pendapat yang dikemukakan oleh Northam dalam Yunus (1994), mengenai perkembangan fisik kota secara konsentris, Branch (1995) mengemukakan enam pola perkembangan fisik kota, secara skematis dapat digambarkan sebagai berikut :
Pola Perkembangan Fisik Kota Menurut Branch 1995
Selanjutnya berdasarkan pada kenampakan morfologi kota serta jenis penjalaran areal kota yang ada, menurut Hudson dalam Yunus (1994) mengemukakan beberapa model bentuk kota, yaitu sebagai berikut :
1)      Bentuk satelit dan pusat-pusat baru. Bentuk ini menggambarkan kota utama yang ada dengan kota-kota kecil di sekitarnya terjalin sedemikian rupa,  sehingga pertalian fungsional lebih efektif dan lebih efisien.
2)      Bentuk stellar atau radial. Bentuk kota ini untuk kota yang perkembangan kotanya didominasi oleh ”ribbon development”.
3)      Bentuk cincin, terdiri dari beberapa kota yang berkembang di sepanjang jalan utama yang melingkar.
4)      Bentuk linier bermanik, pertumbuhan areal-areal kota hanya terbatas di sepanjang jalan utama dan pola umumnya linier. Pada pola ini ada kesempatan untuk berkembang ke arah samping tanpa kendala fisikal.
5)      Bentuk inti/kompak, merupakan bentuk perkembangan areal kota yang biasanya didominasi oleh perkembangan vertikal.
6)      Bentuk memencar, merupakan bentuk dengan kesatuan morfologi yang besar dan kompak dengan beberapa ”urban centers”, namun masing-masing pusat mempunyai grup fungsi-fungsi yang khusus dan berbeda satu sama lain.
7)      Berdasarkan pendapat para ahli yang dikemukakan di atas, tentang pola-pola perkembangan fisik kota, pada dasarnya memiliki banyak persamaan. Namun secara umum pola perkembangan fisik kota dapat dibedakan menjadi perkembangan memusat, perkembangan memanjang mengikuti pola jaringan jalan dan perkembangan meloncat membentuk pusat-pusat pertumbuhan baru.
Model Penjalaran Fisik Kota Secara Umum Menurut Northam
Dalam mengkaji perkembangan fisik suatu kota, menurut Hagget (1970) dapat mengacu pada teori difusi atau teori penyebaran/penjalaran yang mempunyai dua model yang masing-masing memiliki maksud yang berbeda. Model-model tersebut adalah model difusi ekspansi dan model difusi relokasi, dengan penjelasan berikut ini :
1)      Model difusi ekspansi (expansion diffusion) adalah suatu proses penyebaran informasi, material dan sebagainya yang menjalar melalui suatu populasi dari suatu daerah ke daerah lain. Dalam proses difusi ekspansi ini informasi atau material yang didifusikan tetap ada dan kadang-kadang menjadi lebih intensif di tempat asalnya. Salah satu contoh proses difusi ekspansi adalah terjadinya pertambahan jumlah penduduk dalam kurun waktu tertentu yang dibedakan dalam dua periode waktu. Dengan demikian dalam ekspansi ruang terdapat pertumbuhan jumlah penduduk, material dan ruang hunian baru.
2)      Model difusi yang lainnya adalah difusi relokasi (relocation diffusion) adalah suatu proses yang penyebaran keruangan, yaitu informasi atau material yang didifusikan meninggalkan daerah asal dan berpindah ke daerah yang baru.
Untuk lebih jelasnya kedua metode difusi tersebut dapat dilihat pada Gambar 6 di bawah ini :




BAB III
      PENUTUP
A.    Kesimpulan
Kota dapat terbentuk sejak terbentuknya kerumunan tempat tinggal manusia yang relative padat pada suatu kawasan tertentu dibanding kawasan disekitarnya. Idealnya kawasan yang disebut kota, penduduknya bukan bermatapencaharian yang berkaitan langsung dengan alam, seperti petani atau peternak, melainkan dibidang pemerintahan, perdagangan, kerajinan, pengolahan bahan mentah, industry dan jasa. Dari sifat awal yang sederhana hingga kompleks, menunjukkan kota terbentuk melalui suatu proses. Oleh karena hal itu kami akan membahas teori perkembangan kota, semoga dengan makalah yang kami buat dapat berguna bagi pembelajaran kita semua.
Ciri-ciri kota modern adalah penggunaan tekhnologi sebagai sarana untuk mempermudah mewujudkan kebutuhan manusia, masyarakat memberikan perhatian pada persoalan lingkungan, dengan mengenal system daur ulang dan sumber energy nonreguler sebagai alternative untuk memenuhi kebutuhan manusia. Ketiga, pemanfaatan tenaga listrik dan komputerisasi sebagai sumber vital untuk menggerakkan roda kegiatan manusia. Masyarakat kota bekerja dengan berbagai macam profesi. Kebutuhan akan profesi ini menjadi salah satu cirri masyarakat kota modern sehingga kebutuhan akan angkatan kerja yang professional meningkat. Dikarenakan kebutuhan akan tenaga kerja professional meningkat, maka kebutuhan akan pendidikan formal menjadi mutlak. Dunia pendidikan juga berkembang pesat. Kebutuhan yang pesat akan pendidikan formal ini merupakan cirri keempat.
Pada kota modern, lembaga perekonomian semakin beragam, modern dan computerized dengan lahirnya supermarket, system perbankan, asuransi, yang saling berkaitan. Dalam kota besar telah terjadi pertemuan orang dari berbagai bangsa untuk tujuan dagang dan saling bertukar kebudayaan. Terjadi perkawinan campuran antar bangsa maupun antar ras sehingga menyebabkan penduduk kota heterogen.
Tahap perkembangan kota yang telah mencapai tingkat tertinggi diantaranya dengan dengan pemekaran atau perluasan kota. Merupakan peningkatan dari kota metropolis. Kekuasaan dan kekayaan semakin menonjol, kemiskinan juga semakin meluas serta banyaknya kriminalitas. Tahap perkembangan kota kehidupannya sudah sulit dikendalikan baik masalah lalulintas, pelayanan maupun kriminalitas. Kota besar ini dilanda ketimpangan – ketimpangan sosial yang berupa korupsi dan kemerosotan moral. Kaum miskin merupakan kekuatan yang tak dapat diabaikan.



DAFTAR PUSTAKA
Branch, Melville, 1955. Perencanaan kota Komprehensif, pengantar dan penjelasan (terjemahan)
Daldjoeni, N. 1998, Geografi Kota dan Desa. Bandung: Penerbit Alumni.
Hagget, Peter. 1970, Geography, A Modern Synthesis.  3rd Edition, London: Harper and Row Publisher. 
Hariyono Paulus. 2007. Sosiologi Kota Untuk Arsitek. Jakarta : Bumi Aksara.
Sujarto, Djoko. 1989, Faktor Sejarah Perkembangan Kota Dalam Perencanaan Perkembangan Kota. Bandung : Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan ITB.
Yunus, Hadi Sabari. 1994, Teori dan Model Struktur Keruangan Kota. Yogyakarta:  Fakultas Geografi UGM.
Yunus, Hadi Sabari. 2000, Struktur Tata Ruang Kota. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar



0 comments:

Post a Comment